Agro Wisata Sapi Perah Nusa Pelangi Mangkrak

Malang, Jawara Post

Keberadaan Agrowisata Sapi Perah Nusa Pelangi di Desa Wisata Gubugklakah, Poncokusumo yang diresmikan tahun 2016 lalu, kini kondisinya mangkrak. Sejumlah wisatawan maupun pengunjung mengeluhkan kondisi mangkraknya objek wisata tersebut.
Padahal, pembangunannya menelan dana Rp 10 miliar. Sehingga, wisatawan menilai pembangunan yang dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang ini menjadi sia-sia.

Salah satu wisatawan Agrowisata Sapi Perah Nusa Pelangi bernama Supriyono mengatakan, tempat tersebut seperti tak terawat dan seperti dibiarkan mangkrak dalam jangka waktu lama. “Kebetulan saya mau ke Bromo mampir di tempat ini,” ungkapnya.
.“Dari luar kelihatannya menarik, tapi kenyataanya tidak sesua dengan bayangan saya,” ujar dia kepada Malang Post. Pria yang berdomisili dari Tuban ini melanjutkan, ada beberapa wahana yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Salah satunya pemerasan susu sapi perah. Tempat pemerasan susu sapi perah yang tujuan semulanya sebagai edukasi bagi wisatawan kini tidak beroperasi.
.
Selain itu, beberapa fasilitas lain berupa museum susu sapi perah dan laboraturium tidak berfungsi.

Selain itu, kandang sapi seperti tidak terawat. Sedangkan 11 sapi yang ada di tempat itu kondisinya kurus kering. “Kasihan sapinya, seperti tidak pernah diberi makanan. Kandangnya juga kotor sekali. Kotoran sapinya tidak pernah dibersihkan,” keluh dia.

Menurutnya, praktis di tempat tersebut hanya area foodcourt yang beroperasi. Namun, diapun mengeluhkan hanya dua stand yang buka saat libur Lebaran sekarang.
.
 “Padahal musim liburan seperti saat ini harus dimanfaatkan dengan baik,” tutup Supriyono.
Sementara itu, Surono, salah seorang warga sekitar, mulanya tempat wisata ini didirikan memiliki ekspetasi besar karena sebagai pendukung Bromo Tengger Semeru ( BTS ) yang menjadi bagian dari 10 Destinasi Wisata Nasional.
.“Pemkab hanya sekadar membangun, tapi tidak memberikan perhatian kepada tempat wisata ini. Jadi, kondisinya ya seperti dilihat sekarang ini,” tuturnya. Dia melanjutkan, sebenarnya tempat wisata tersebut sudah dihibahkan kepada desa untuk dilakukan pengelolaan secara mandiri.
.“Kalau desa tidak diberi pendampingan, akibatnya seperti sekarang ini, kondisinya mangkrak. Seharusnya Pemkab yang membangun tidak lepas begitu saja dan terus memberikan pendampingan,” pungkasnya



Menyingkap Tabir Menguak Fakta