Heboh !!!!!! Ramalan Joyo Boyo “Ratu PETRUK Lengser ke Prabon”

RAMALAN JOYOBOYO
JOYO “SELAMAT” BOYO “BAHAYA”

NUSANTARA, Jawara Post– Republik Indonesia sebelum di nyatakan kemerdekaan nya di tahun 1945 adalah dikenal sebagai Nusantara yang terdiri dari berbagai Kerajaan, disetiap pulau besar ada rajanya seperti Di Aceh, Sumsel, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, Sulawesi dsb.
Para raja yang terkenal diantaranya adalah Raja Jayabaya yang terkenal dengan Kitab Musasarnya yang isinya memprediksikan Nusantara Zaman itu dan Nusantra kedepannya.

Raja Jayabaya atau Prabu Jayabaya dengan karya yang terkenal adalah Kitab Musasar nya ? detailnya :
LATAR BELAKANG PRABU JAYABAYA:
Prabu Jayabaya merupakan buah cinta dari kisah romantis Raden Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Chandra Kirana, yang memerintah Kerajaan Kediri sekitar tahun 1135 sampai dengan tahun 1159.
Terdapat berbagai penafsiran versi menyangkut Ramalan Jayabaya. Ada yang percaya bahwa ramalan tersebut memang karya raja besar Kediri itu, yang dikenal sangat menghargai dan mencintai karya sastra.

Dan Beliau memerintahkan dua pujangganya, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk menyadur dan menciptakan karya-karya sastra. Versi lain menyebutkan bahwa Ramalan Jayabaya itu sesungguhnya bukanlah karya sang maharaja melainkan karya orang lain yang kemudian dianggap sebagai karya Jayabaya.

Prabu Jayabaya adalah Raja Kerajaan Kediri yang terkenal sakti dan berilmu tinggi, konon beliau adalah titisan Betara Wishnu, sang Pencipta Kesejahteraan di Dunia, yang akan menitis selama tiga kali.

RAMALAN JAYABAYA:
Beliau mampu meramalkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis oleh beliau dalam bentuk tembang-tembang Jawa yang terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab ini dikenal dengan nama Kitab Musarar.
Ramalan Jayabaya dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama 700 tahun, yaitu :
1. Zaman Permulaan (Kali-Swara) 1 – 700 M
2. Zaman Pertengahan (Kali-Yoga) 701 – 1400 M
3. Zaman Akhir (Kali-Sangara). 1401 – 2100 M
Yang menjadi pusat rujukan berbagai pihak dari ramalan Jayabaya adalah ramalan Zaman Akhir (Kali-sangara) dari tahun Masehi 1401 sampai dengan tahun 2100, karena kita dapat membuktikannya dengan catatan sejarah Indonesia / Jawa dalam periode tersebut.
Ramalan Jayabaya dalam periode Akhir tersebut cukup akurat dalam meramalkan bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa (Indonesia), naik-turunnya para Raja-raja dan Ratu-ratunya atau Pemimpinnya, yang terbagi dalam tiap seratus tahun sejarah, yaitu :1. Kala-Jangga (1401-1500 M)
2. Kala-Sakti (1501-1600 M)
3. Kala-Jaya (1601-1700 M)
4. Kala-Bendu (1701-1800 M)
5. Kala-Suba (1801-1900 M)
6. Kala-Sumbaga (1901-2000 M)
7. Kala-Surasa (2001-2100 M).
Sebuah riwayat bahwa Raja Jayabaya pernah berguru kepada seorang ulama terkemuka dari jazirah Arab yang sedang mengembara ke Asia Tenggara. Ulama itu bernama Syech Ali Syamsu Zein.
Prabu Jayabaya, Raja Kediri bertemu seorang tokoh dari Rum yang sangat sakti, Maulana Ali Samsuyen. Ia pandai meramal serta tahu akan hal yang belum terjadi. Jayabaya lalu berguru padanya, sang Tokoh menerangkan berbagai ramalan yang tersebut dalam kitab Musaror dan menceritakan pengiriman orang sebanyak 12.000 keluarga oleh utusan Sultan Galbah di Rum, orang itu lalu ditempatkan di pegunungan Kendeng, lalu bekerja membuka hutan tetapi banyak yang Meninggal karena gangguan makhluk halus, jin dsb, itu pada th rum 437, lalu Sultan Rum memerintahkan lagi di Pulau Jawa dan kepulauan lainnya dengan mengambil orang dari India, Kandi, Siam.Sejak pengiriman orang-orang ini sampai hari kiamat kobro terhitung 210 tahun matahari lamanya atau 2163 tahun bulan, Sang tokoh mengatakan orang di Jawa yang berguru padanya tentang isi ramalan hanyalah Hajar Subroto dari G. Padang.
Kemudian Jayabaya menulis ramalan Pulau Jawa sejak ditanami yang keduakalinya hingga kiamat, lamanya 2.100 th matahari. Isi Ramalannya :

TRI-TAKALI :

Jaman Permulaan disebut “KALI-SWARA”*, lamanya 700 th matahari (721 th bulan). Pada waku itu di jawa banyak terdengar suara alam, gara-gara geger, halintar, petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak manusia menjadi dewa dan dewa turun kebumi menjadi manusia.
Berikutnya Jaman Pertengahan disebut “KALI-YOGA” banyak perubahan pada bumi, bumi terbelah belah menyebabkan terbagi menjadi pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yang mati banyak menjelma (nitis).

Selanjutnya Jaman Akhir disebut “KALI-SANGARA” 700 th. Banyak hujan salah mangsa dan banyak kali dan bengawan bergeser, bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.
Tiga jaman tesebut. Masing-masing dibagi menjadi SAPTAMA-KALA, artinya jaman kecil-kecil, tiap jaman rata-rata berumur 100 th. Matahari (103 th. bulan), seperti dibawah ini :

”JAMAN KALI-SWARA” (1 – 700 M ) Dibagi Menjadi :
“Kala-Kukila” 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.
“Kala-Buddha” (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang agadnata (Batara Guru).
“Kala-Brawa” (th. 201 – 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun kebumi menyiarkan ilmu.

“Kala-Tirta” (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, disepanjang air itu bumi menjadi terbelah menjadibdua. Yang sebe-lah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul,sedang, telaga dan lain sebagainya.
“Kala-Swabara” (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.
“Kala-Rebawa” (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian keramaian kesenian dll
“Kala-Purwa” (th. 601-700): Banyak kemunculan keturunan orang orang besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.

Berikut “JAMAN KALA-YOGA” (701 – 1400 M) Dibagi Menjadi :

*Kala-Brata* (th. 701-800) : Orang mengalami hidup sebagai fakir.
*Kala-Drawa* (th. 801-900) : Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.
*Kala-Dwawara* (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.
*Kala-Praniti* (th.1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.
*Kala-Teteka* (th.1.101 – 1.200): Banyak orang datang dari negeri-negeri lain.
*Kala-Wisesa* (th.1.201-1.300): Banyak orang yang terhukum.
*Kala-Wisaya* (th. 1.301 – 1.400): Banyak orang memfitnah.

Selanjutnya “JAMAN KALA-SANGARA” (1401 – 2100 M) Dibagi Menjadi :

*Kala-Jangga* (th. 1.401 – 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.
*Kala-Sakti* (th. 1.501 – 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.
*Kala-Jaya* (th. 1.601 – 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.
*Kala-Bendu* (th. 1.701 – 1.800): Banyak orang senang berbantah bantahan, akhirnya bentrokkan terjadi.
*Kala-Suba* (th. 1.801 – 1.900 ) : Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.
Kemudian “KALA – SUMBAGA” (1.901 – 2.000 M) :
Banyak Orang Tersohor Pandai dan Hebat.
Munculnya Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba mulia (Pemimpin Besar Revolusi).

Sang Raja kebal terhadap berbagai senjata (selalu lolos dari percobaan pembunuhan), namun memiliki kelemahan mudah dirayu wanita cantik, dan tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah beliau (mundurnya beliau karena demo para pelajar dan mahasiswa).
Sang Raja sering mengumpat orang asing sebagai lambang bahwa beliau sangat anti Imperialisme.

Dalam tembang Jawa berbunyi: “Ratu digdaya ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang sing doyan asu”.
(Bung Karno bergelar Panglima Tertinggi ABRI, siapa yang menentangnya bisa celaka, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa pusaka, dan menang perang tanpa merendahkan lawannya, kaya tanpa harta, benderanya merah-putih. Beliau meninggal dalam genggaman manusia. Dalam tembang Jawa berbunyi: “sing wani bakal wirang, yen nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji apa-apa, lamun menang tanpa ngasorake liyan, sugih tan abebandhu, umbulane warna jenang gula klapa. Patine marga lemes.”)
Naik-turunnya Preside RI ke-2 Suharto juga secara jelas diramalkan oleh Prabu Jayabaya pada Bagian Akhir tembang Jawa butir 11 sampai 16 sebagai berikut:

Ana jalmo ngaku-aku dadi ratu duwe bala lan prajurit negara ambane saprowulan panganggone godhong pring anom atenger kartikapaksi nyekeli gegaman uleg wesi pandhereke padha nyangklong once gineret kreta tanpa turangga nanging kaobah asilake swara gumerenggeng pindha tawon nung sing nglanglang Gatotkaca kembar sewu sungsum iwak lodan munggah ing dharatan. Tutupe warsa Jawa lu nga lu (wolu / telu sanga wolu / telu) warsa srani nga nem nem (sanga nenem nenem) alangan tutup kwali lumuten kinepung lumut seganten.

(Beliau muncul sebagai Pemimpin yang didukung oleh Angkatan Bersenjata RI (darat, udara dan laut), berlambang Kartikapaksi, memakai topi baja hijau (tutup kwali lumuten) pada tahun 1966.
Zaman pemerintahan Presiden Suharto (Orde Baru) berlangsung selama 30 tahun, dan menurut Jayabaya ada tiga raja yang menguasai tanah Jawa /Indonesia saat itu sebagai lambang kekuasaan dari tiga kekuatan politik: Golkar-Parpol-ABRI. Ketiga kekuatan itu menghilang saat Pak Harto mundur, karena saling berselisih.

Setelah itu tidak ada lagi raja yang disegani, dan para Bupat Manca Negara (luar Jawa) berdiri sendiri-sendiri (otonom).
Setelah lenyapnya kekuasaan tiga raja tersebut diatas, Jayabaya meramalkan datangnya seorang Pemimpin baru dari negeri seberang, yaitu dari Nusa Srenggi (Sulawesi), ialah Presiden BJ Habibie.)

Ramalan Selanjutnya Adalah:
“Inilah jalan bagi yang selalu ingat dan waspada! Agar pada zaman tidak menentu bisa selamat dari bahaya atau “jaya-baya”, maka jangan sampai keliru dalam memilih pemimpin. Carilah sosok Pemimpin yang bersenjatakan Trisula Weda pemberian dewa. Bila menyerang tanpa pasukan, kalau menang tidak menghina yang lain.

Rakyat bersukaria karena keadilan Tuhan telah tiba. Rajanya menyembah rakyat yang bersenjata Trisula Weda; para tokoh tokoh ulama menghargainya. Itulah asuhannya Sabdopalon – yang selama ini menanggung rasa malu tetapi akhirnya termasyhur- karena segalanya tampak terang benderang. Tidak ada lagi yang mengeluh kekurangan; itulah pertanda bahwa zaman tidak menentu telah usai berganti zaman penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia pun menaruh hormat.”

Di zaman modern abad ke-21 saat ini dengan berbagai persenjataan modern dan alat tempur yang canggih, mulai dari senjata nuklir, roket, peluru kendali, dan lain-lainnya, maka senjata Trisula Weda mungkin bukanlah senjata dalam arti harafiah, tetapi adalah senjata dalam arti kiasan, tiga kekuatan yang mebuat seorang Pemimpin disegani segenap Rakyatnya. Bisa saja itu adalah tiga sifat-sifat sang Pemimpin, seperti: Benar, Lurus, Jujur (bener, jejeg, jujur) seperti yang diungkapkan dalam tembang-tembang Ramalan Jayabaya.

Demikian pula tentang sosok sang Pemimpin yang digambarkan sebagai Satriya Piningit, bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul, tetapi Ia adalah seorang Pemimpin Indonesia yang sifatnya tidak mau menonjolkan diri, tetapi Ia bekerja tanpa pamrih, menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan bangsa dan negara. Sudah ada langkah-langkahnya yang nyata yang dapat ditelusuri dalam kehidupannya sehari-hari.

”KAlA-SURASA” (2.001 – 2.100 M):
Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.

Ramalan Jayabaya bagi Indonesia setelah tahun 2001 Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera sebagai akhir dari Ramalan Jayabaya (Kala-surasa, 2001-2100 M), zaman yang tidak menentu (Kalabendu) berganti dengan zaman yang penuh kemuliaan.


Sehingga seluruh dunia menaruh hormat. Akan muncul seorang Satriya Piningit sebagai Pemimpin baru Indonesia dengan ciri-ciri sudah tidak punya ayah-ibu, namun telah lulus Weda Jawa, bersenjatakan Trisula yang ketiga ujungnya sangat tajam, sbb:

“Mula den upadinem sinatriya iku wus tan abapa, abibi, lola, wus pupus weda Jawa mung angendelake trisula, landepe trisula sing pucuk gegawe pati utawa untang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda.”
Ramalan yang ditulis Jayabaya itu disetujui oleh sang tokoh “Ali Samsujen”, kemudian sang tokoh pulang ke negerinya, diantar oleh Jayabaya dan putera mahkotanya “Jaya-amijaya” dari Pagedongan, sampai di perbatasan. Jayabaya diiringi oleh puteranya pergi ke Gunung Padang, disambut oleh “Ajar Subrata” dan diterima di sanggar semadinya. Sang Anjar hendak menguji sang Prabu yang terkenal sebagai pejelmaan Batara Wisnu, maka ia memberi isyarat kepada endang-nya (pelayan wanita muda) agar menghidangkan suguhan yang terdiri dari :
1. Kunir (kunyit) satu akar
2. Juadah satu takir (mangkok dibuat dari daun pisang)
3. Geti (biji wijen bergula) satu takir
4. Kajar (senthe sebangsa ubi rasanya pahit memabokkan satu batang)
5. Bawang putih satu takir
6. Kembang melati satu takir
7. Kembang seruni (serunai; tluki) satu takir
Anjar Subrata menyerahkan hidangan itu kepada sang prabu. Seketika Prabu Jayabaya menjadi murka dan menghunus kerisnya, sang Anjar ditikamnya hingga mati, jenazahnya muksa hilang. Endangnya yang hendak laripun ditikamnya pula dan mati seketika.

Sang putera mahkota sangat heran melihat murkanya Sang Prabu yang membunuh mertuanya (Anjar Subrata) tanpa dosa. Melihat putera mahkotanya sedih, sesudah pulang Prabu Jayabaya berkata dengan lemah lembut.

“Ya anakku putera mahkota, janganlah engkau sedih karena matinya mertuamu, sebab sebenarnya ia berdosa terhadap Kraton.”

Ia bermaksud mempercepat berakhirnya, para raja di tanah Jawa yang belum terjadi. Hidangan sang Ajar menjadi perlambang akan hal-hal yang belum terjadi. Kalau ku-sambut (hidangan itu) niscaya tidak akan ada kerajaan melainkan hanya para pendeta yang menjadi orang-orang yang dihormati oleh orang banyak, sebab menurut guruku Baginda Ali Samsujen, semua ilmu Ajar itu sama dengan semua ilmuku”.

Sang prabu anom tertunduk kepala memahami, kemudian mohon penjelasan tentang hidangan-hidangan sang pendeta dalam hubungannya dengan kraton-kraton yang bersangkutan.
Sabda Prabu Jayabaya, “Ketahuilah anakku, bahwa aku ini penjelmaan Wisnu Murti, berkewajiban mendatangkan kesejahteraan kepada dunia, sedang penjelmaanku itu tinggal dua kali lagi. Sesudah penjelmaan di Kediri ini, aku akan menjelma Malawapati dan yang terakhir di Jenggala, sesudah itu aku tidak akan lagi menjelma di pulau Jawa, sebab hal itu tidak menjadi kewajibanku lagi.”

Tatanan atau rusaknya jagad aku tidak ikut-ikut, serta keadaanku sudah gaib bersatu dengan keadaan di dalam kepala-tongkat guruku. Waktu itulah terjadinya hal-hal yang dilambangkan dengan hidangan Sang Ajar tadi. Terdapat pada 7 tingkat kerajaan, alamnya bergantian, berlainan peraturannya. Wasiatkanlah hal itu kepada anak cucumu di kemudian hari”.         ( bersambung)

JAWARA POST

Dikutip dari Media Rajawali Gresik Jawa Timur
May 5, 2019 0624 # Oleh : Gus A’ang___



Menyingkap Tabir Menguak Fakta