Keistimewaan Belajar Di Pesantren Dalam Konteks Kontemporer

JOMBANG, Jawara Post – Fnomena meningkatnya jumlah kalangan remaja (generasi millennial) yang nyantri di pondok pesantren patut kita syukuri bersama. Selain kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan karakter yang bernafaskan nilai-nilai Islami, peran aktif berbagai pihak seperti RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) dengan tagline #AyoMondok, serta pemanfaatan Media Sosial sebagai sarana syi’ar juga patut diapresiasi dan kita jaga bersama momentumnya.

Beberapa tahun belakangan ini, pesantren telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan keagamaan dan sosial yang progresif dan adaptif terhadap dinamika perkembangan zaman khususnya dibidang manajerial dan pemanfaat IT (Informasi dan tekhnologi).

Kini, pesantren telah menjadi tempat yang bersih, nyaman, fasilitas yang layak serta manajemen organisasi yang lebih tertata rapi. Pengasuh memiliki peranan penting selaku pucuk pimpinan guna memaksimalkan koordinasi para pembantunya (dewan asatidz dan Pembina asrama) untuk melakukan pendampingan 24 jam secara utuh. Kegiatan pondok berjalan dengan efektif dan terarah. Santri pun merasa terlayani dengan baik.

Dalam segi finansial, banyak pesantren telah membuka diri terhadap pengembangan ekonomi kreatif hingga menjadi lembaga yang mandiri secara finansial. Pola lama berupa ekonomi sentralistik yang berpusat pada figur dan peran Kiai sudah mulai ditinggalkan.

Pihak kepengasuhan tidak lagi mengandalkan income syahriah berupa SPP, namun banyak jejaring “otot-otot” lain yang menopang keuangan pesantren yang berupa unit-unit kreatif seperti penginapan, hasil ternak dan berkebun, produk handmade santri, koperasi, kantin dan lain sebagainya. Semua itu berkat pelatihan-pelatihan entrepenurship yang dilaksanakan oleh pihak pesantren yang bekerjasama dengan pihak luar.

Dari segi materi kurikulum, di pesantren kini bukan melulu belajar tentang kitab kuning. Para santri milenial sudah bisa mengeksplore potensi dirinya diberbagai skill seperti leadership, latihan pidato (public speaking), outbond, English-Arabic language club, fotografi, sinematografi, dan lain sebagainya.

Kesan santri hanya bisa mengaji tapi tidak melek IT sepertinya perlu dibuang jauh-jauh oleh pihak yang skeptis diluar sana. Justru di pesantren ada akulturasi antara budaya salafi dan nilai-nilai modernitas. Kegiatan khas pesantren seperti istighosah, tahlil, ziarah kubur, banjari, dib’aan juga tetap dipegang teguh dan dilestarikan bersama.

Pembelajaran Abad 21 ala Pesantren

Para pakar pendidikan (Scholars), mendefinisikan karakter pendidikan abad 21 diantaranya mencakup nilai-nilai kolaboratif, berfikir kreatif-inovatif, critical thinking, pemecahan masalah serta membangun komunikasi yang baik.

JIka UNESCO terkenal dengan empat pilar pendidikannya, yaitu 1. Learning to know (belajar mengetahui) 2. Learning to do (belajar melakukan sesuatu) 3. Learning to be (belajar menjadi sesuatu) 4. Learning to live together (belajar hidup bersama), maka pada hakikatnya di pesantren, sebuah lembaga tertua di Indonesia sejak ratusan tahun silam, telah menerapkan nilai-nilai holistik tersebut.

Ketika pendidikan di Indonesia disibukkan dengan jargon pendidikan karakter, mulai dari hal yang remeh temeh seperti budaya antri, menjaga kebersihan, kejujuran (honesty), hingga tema yang dianggap serius seperti anti-bullying, toleransi dan moderasi, di Pesantren jauh-jauh hari telah menjalankan itu semua. Seolah “kaum sarungan” berujar; “Kami sepi ing pamrih, rame ing gawe”

Di pesantren, para santri diajari problem solving secara realtime terkait problematika keseharian. Ia ditempa untuk menjadi sosok yang berdikari; berdiri diatas kaki sendiri. Ia dituntut untuk mengatur kesehatannya, waktu belajarnya, merapikan isi lemari hingga mengatur uang saku secara mandiri.

Dalam proses pembelajaran yang bersifar direct (mubasyir), pengasuh pesantren sering memberikan titah atau mandat secara langsung kepada santri untuk menjadi badal (pengganti) ketika beliau udzur, baik dalam pengajian di pondok maupun kegiatan di masyarakat yang bersifat sosial.

Uniknya, dalam kehidupan pesantren, para santri sudah terbiasa untuk hidup bersama ratusan temannya yang berlatar belakang suku, adat dan bahasa yang beragam. Santri diajari tepo seliro (tasamuh) sehingga mempunyai rasa toleransi yang tinggi. Ia tidak mudah marah dan tersinggung jika terjadi khilafiyah dalam hal yang bersifat furu’iyyah. Disinilah kita mengistinbath point Learning to live together ala Unesco.

Disinilah diantara kelebihan dan keunikan (mumayyizat) pendidikan pesantren dibandingkan lembaga pendidikan umum. Orang tua tentunya merasa aman dan nyaman karena sistem pendampingan pesantren bersifat 24 jam, kegiatan yang beragam, hingga pendidikan karakter yang sudah menjadi pola rutinitas sehari-hari. Wallahua’lam.

*Akhmad Kanzul Fikri.
Pengasuh PP. Al-Aqobah, Dosen Unwaha dan anggota RMI Jombang. (Syarif Abdurrahman /kusnoaji)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta