Kiai Modin Teja, Penyambung Mata Rantai

Sumenep dan Pamekasan, baik ulama dan umaranya memiliki rantai keilmuan dan nasab yang sama. Khususnya sejak pasca abad ke 15. Salah satu penyambung mata rantai keduanya itu ialah Kiai Modin Teja, salah satu ulama besar berpengaruh di bumi Gerbang Salam di masa awal berkembangnya Islam di sana.

MADURA JAWARA POST —-Nama  Kiai Modin Teja banyak disebut di banyak catatan tentang sejarah Sumenep dan Pamekasan. Meski hanya sekilas, nama beliau sangat penting untuk disebut. Khususnya yang berkaitan dengan genealogi. Ketokohannya memang tidak banyak dibincang. Namun posisinya sebagai sesepuh dan tokoh yang dita’zhimi di masanya itu menunjukkan kualitas dirinya baik dalam hal keilmuan dan sosial kemasyarakatan, khususnya di wilayah Pamekasan.

Kiai Agung Raba Pamekasan: Pakunya Pulau Madura

Dalam hal keilmuan, berdasar informasi dari keluarga Raba, Pademawu, Pamekasan, sang Kiai merupakan ulama yang menjadi jujukan ilmu. Diceritakan dalam sebuah catatan kuna bertarikh paruh pertama 1900-an, bahwa Kiai Modin Teja memiliki semacam pesantren atau panggurun.

“Dulu, Kiai Raba atau Kiai Abdurrahman saat pertama menginjakkan kaki ke Pamekasan lebih dulu acabis (sowan; red) pada beliau,” kata Bindara Hamid, salah satu penerus estafet situs Raba sekaligus yang menyimpan catatan kuna tersebut pada Mata Madura.

Meski lebih dulu dari Kiai Raba, ketokohan Kiai Modin Teja memang tidak sepopuler menantunya itu. Ya, Kiai Modin Teja memang mertua dari Pakunya Pulau Madura tersebut. Salah satu putrinya, Nyai Kebbun adalah Nyai Raba, alias isteri Kiai Raba, Pamekasan.

Asal-Usul

Sebutan Modin pada tokoh besar ini bukanlah nama asli atau daging. Modin merupakan sebuah jabatan sejak masa kuna hingga saat ini. Modin juga dikenal di Jawa. Di Madura Modin merupakan bagian dari struktur sebuah desa. Modin bertugas sebagai tokoh yang berkaitan erat dengan aspek sosial masyarakat. Di antaranya juga dalam hal pencatatan pernikahan, kematian, dan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat di wilayah tersebut.

Sebutan Modin pada Kiai Modin Teja memang kemungkinan besar terkait dengan hal tersebut. Sebuah asumsi juga muncul yang menyebut bahwa Modin adalah nama panggilan (nick name). Di beberapa kasus, ada beberapa orang yang dikenal dengan panggilan Modin. Singkatan dari Hakimuddin. Salah satunya di Palalang, Pakong, Pamekasan ada salah satu tokoh bernama Kiai Moddin, yang memiliki nama lengkap Hakimuddin. Tokoh ini wafat awal 1990-an silam.

Namun asumsi itu sebenarnya tidak begitu kuat. Karena di catatan silsilah, Kiai Modin Teja disebut sebagai putra dari Kiai Hakimuddin Teja. Meski hal itu lantas juga memunculkan asumsi bahwa Kiai Modin Teja dan Kiai Hakimuddin Teja adalah satu orang yang sama. Pasalnya, hingga detik ini, Mata Madura belum menemukan informasi kuat tentang keberadaan makam Kiai Hakimuddin di Teja.

“Saya sudah mencoba menelusuri atau mencari informasi hingga langsung ke Teja, dan juga sebelumnya ke beberapa tokoh. Namun hasilnya nihil,” kata Bindara Ilzam, warga Pamekasan yang juga aktif dalam penelusuran genealogi tokoh-tokoh awal Madura.

Sementara Teja merupakan sebuah kawasan di Pamekasan yang posisinya dekat dengan kota. Saat ini kawasan Teja dibagi menjadi dua, yang masing-masing secara administratif berstatus sebagai desa. Masing-masing bernama Teja Barat dan Teja Timur. Keduanya berada dalam kawasan kecamatan kota Pamekasan.

Dalam buku Sejarah Sumenep (2003), disebutkan nama Kiai Modin Teja ini Abdullah. Dalam beberapa catatan silsilah, khususnya Silsilah Keluarga Keraton Sumenep (1989), susunan R B Abdul Fattah, Kiai Modin Teja dan Kiai Hakimuddin Teja memang dua orang berbeda. Keduanya ialah anak dan ayah. Nama lain Kiai Modin Teja tidak disebut. Babad Songennep (1914), tulisan Werdisastra, juga hanya menyebut Modin Teja saja. Begitu juga Zainalfattah (1952).

Raden Demang Singoleksono atau yang dikenal dengan panggilan Kiai Macan

Sementara ke atas, Kiai Hakimuddin, di catatan silsilah Keraton Sumenep, disebut sebagai putra Kiai Cendana atau Sunan Cendana Kwanyar. Sedang di catatan lain, seperti di Pamekasan (sebagian) menulis bahwa Kiai Modin Teja adalah putra Kiai Gar Bata (Langgar Bata) atau Pandita Teja. Langgar Bata atau Pandita Teja ini disebut sebagai nama lain dari Kiai Hakimuddin. Di catatan Pamekasan juga menyebut putra lain Kiai Pandita (Langgar Bata), yaitu Kiai Agung Waru, leluhur beberapa tokoh pesantren besar di Pamekasan, di antaranya Banyuanyar dan Bata-bata.

Hanya, di catatan Pamekasan itu menyebut Kiai Pandita atau Hakimuddin bukan langsung putra Sunan Cendana. Seperti catatan yang dipegang Bindara Ilzam (Banyumas), Bindara Badri (Pakong), dan Ustadz Nurul Yaqin (Pasean), menyebut Kiai Pandita sebagai salah satu putra Nyai Selase, Bangkalan. Nyai Selase ialah putra Nyai Kumala binti Sunan Cendana. Suami Nyai Kumala ialah Kiai Abdullah Tonjung bin Kiai Khatib Pesapen bin Pangeran Khotib Mantu (Madegan). Sedang suami Nyai Selase ialah Kiai Selase, yang silsilahnya masih diperdebatkan. Catatan di Pamekasan ini, mengenai Kiai Pandita ke atas, sama dengan catatan milik beberapa keluarga kiai di Bangkalan.

Keturunan

Seperti disebut di muka, riwayat hidup Kiai Modin Teja tidak banyak dibincang. Dalam catatan atau riwayat keluarga Raba Pamekasan, Kiai Abdurrahman alias Kiai Agung Raba, saat dititah gurunya ke timur, yaitu Pamekasan, sowan terlebih dulu ke Kiai Modin Teja. Oleh Kiai Modin Teja diberi beberapa wejangan. Saat menetap di Raba bersama keponakannya, Bindara Bungso, Kiai Raba juga sering nyabis ke Teja. Diperkirakan, disamping berguru, antara Kiai Raba dan Modin Teja masih ada hubungan kerabat.

KH Bahauddin Mudhary; Kiai Muhammadiyah asal Sumenep

Nah, suatu waktu, saat sowan ke Teja, Kiai Raba bertemu dengan Nyai Kebbun binti Modin Teja. Kiai Raba lantas melamar Nyai Kebbun pada ayahnya. Modin Teja merestui. Kiai Raba menikah dengan Nyai Kebbun. Keduanya menetap di Raba. Berdasar catatan sejarah, Kiai Raba dan Nyai Kebbun tidak dikaruniai keturunan. Yang menetap dan menggantikan di Raba ialah saudara Bindara Bungso, yaitu Bindara Adil. Sementara Bindara Bungso diperintah Kiai Raba agar hijrah dan membabat Batuampar, Guluk-guluk.

Disamping Nyai Kebbun, Kiai Modin Teja juga memiliki dua orang putri lagi. Yaitu Nyai Salamah dan Nyai Sarati. Nyai Salamah menikah dengan Kiai Khatib Bangel dari Parongpong, Kecer, Dasuk, Sumenep. Nyai Salamah adalah ibu dari Kiai Pekke (Faqih) Lembung, Nyai Nuriam (Ibunda Bindara Saut bin Bindara Bungso), Nyai Galuh (ibu Nyai Izza; isteri pertama Bindara Saut, atau ibu Panembahan Sumolo, Raja Sumenep).

Kiai Aji Gunung Sampang; Guru Para Wali Besar di Madura

Nyai Galuh ini juga ibu dari Nyai Rum, isteri Bindara Ibrahim bin Bindara Bungso yang menurunkan banyak tokoh-tokoh pesantren di Sumenep, Nongtenggi (Pakong) hingga ke wilayah Tapal kuda. Sedangkan Nyai Sarati tidak tercatat suami dan maupun keturunannya. Begitu juga di mana beliau menetap.

Wafat

Meski tetap disebut Kiai Modin Teja, pasarean sang Wali ini tidak terletak di Teja. Beliau justru dimakamkan di Bicorong, Pakong, Pamekasan.

Menurut sebuah riwayat, Kiai Modin Teja wafat di Bicorong, dalam sebuah lawatan. Sebelum wafat, beliau sudah berdawuh bahwa ajalnya sudah mulai dekat. Lantas beliau juga berwasiat agar jenazahnya tidak dibawa ke kediamannya di Teja, melainkan dimakamkan di lokasi beliau wafat. Wa Allahu a’lam

R B M Farhan Muzammily



Menyingkap Tabir Menguak Fakta