Disini Kupijak Bumi Merdeka

Menjogeti Kesedihan dengan Dangdut Koplo

Jagad maya sempat heboh gara-gara status Facebook Agus Mulyadi yang berjudul “Lord Didi” tertanggal 09 Juni 2019. Sebelum menulus ini, tulisan Agus saya lihat disukai oleh 9.780 akun, dikomentari sebanyak 1.510, dan yang membagikan tertera sejumlah 4.410. Angka yang bisa dibilang fantastis.

Lalu apa sebenarnya yang menarik dari tulisan tersebut hingga Warganet begitu antusias merespon?

Pertama karena Agus mengemas tulisannya dengan canda yang mengundang tawa. Berikutnya faktor Didi Kempot sebagai lakon utama. Terakhir tentang “kesedihan” yang menciri khas-i lagu-lagu Didi Kempot. Ketiga faktor itu diracik sedemikian apik oleh Agus ke dalam Lord Didi-nya.

Saya sendiri lebih tertarik pada faktor ketiga. Faktor kesedihan yang senantiasa dibawa Didi Kempot dalam lagu-lagunya. Ingatan saya terbawa pada fenomena Dangdut Koplo. Di Koplo hampir sama. Kesedihan dieksplor sedemikian rupa, bahkan hingga dijogeti.

Sering sekali lagu-lagu hits Didi Kempot seperti “Stasiun Balapan” dan yang lainnya didangdut-koplokan dan dibawakan oleh  biduwan-biduwan bahenol dengan joget seksi erotisnya di atas panggung. Penotonnya tak ketinggalan, bergoyang bersama, riang gembira.

Memang tak sedikit yang mencibir. Menganggapnya “gak nyambung” karena lagu sedih dibawakan dengan goyang pinggul segala. Alasan lain karena banyaknya oknum penggemar koplo yang doyan mabuk-mabukan, yang biasanya saat joget dengan gaya mabuknya suka bikin gara-gara, sebabkan tawuran di orkesan. Karena itu dangdut koplo dengan dinamika yang seperti itu dipandang negatif oleh beberapa orang.

Pandangan negatif tersebut tak bisa serta merta disalahkan. Sudut pandangnya cukup objektif. Tapi di samping itu, sebenarnya masih ada, atau bisa saja banyak yang bisa dijadikan pelajaran dari fenomena dangdut koplo. Salah satunya ya menjogeti kesedihan itu.

Mungkin sudah sering kita dengar atau membaca nasehat dari seseorang supaya menertawakan kesedihan kita sendiri. Biasanya yang tengah bersedih akan protes dalam hati kalau dapat nasehat semacam itu. “Alah! itu kan cuma teori, coba pas lagi sedih gini, bisa nggak ketawa,” contoh protesnya begitu.

Kalau nasehat yang keluar dari mulut orang dan yang tertulis masih terkategori teori, maka yang diajarkan di dalam dangdut koplo sebenarnya lebih dari itu. Menjogeti kesedihan adalah mempraktekkan nasehat bijak yang baru dianggap teori. Mereka yang bisa berjoget ria biasanya bisa melupakan kesedihannya. Meski kadang hanya sementara, tapi ada proses refresh di dalamnya. Ini penting. Supaya yang dilanda sedih tak terlalu jauh terbawa dalam suasana kesedihannya.

Bagaimana, tertarik untuk menjogeti kesedihan dengan berkoplo ria? Mudah saja. Putar lagu-lagu Didi Kempot atau lagu lainnya yang versi koplo. Usahakan di ruangan tanpa nyala lampu, lalu nikmati dan ikuti sensasinya.

 

 

IF/Redaksi



Menyingkap Tabir Menguak Fakta