RADAR JAYAPURA : BANJIR BANDANG TERJANG KAWASAN BANDARA PAPUA

PAPUA,  Jawara Post Banjir bandang yang kini melanda Kota Sentani dan sekitarnya di Kabupaten Jayapura dengan korban 61 orang tewas ini adalah kisah piluh yang kedua kalinya. Dari data yang didapat, banjir pertama pernah terjadi tahun 2007 silam. Banjir itu menyebabkan salah satu jembatan utama di Kota Sentani putus diterjang batu dan bongkahan kayu dari kaki Gunung Cycloop.

Kedua banjir besar dan beberapa kali banjir skala kecil seperti di wilayah Yahim adalah peringatan. Tapi kadang peringatan itu hanya dianggap angin lalu. Jika dicermati, arus banjir bandang yang datang melanda wilayah pemukiman warga Kota Sentani, pada Sabtu malam, 16 Maret 2019 itu datangnya melalui aliran sungai yang bersumber dari bentangan Pegunungan Cycloop.

Namun kini banyak pemukiman dan pembukaan lahan telah mamasuki wilayah bentangan Pegunungan Cycloop. Padahal dulunya memasuki atau beraktiftas di wilayah itu jelas dilarang. Bahkan ada pemahaman warga dari suku asli setempat sebagai kearifan lokal yang percaya, akan terjadi malapetaka jika mereka beraktifitas memasuki wilayah hutan Pegunungan Cycloop.

Pegunungan Cycloops atau biasa juga disebut Siklop, Dobonsolo atau Dafonsoro. Bentangan Cycloop ini berada dari Kabupaten Jayapura hingga Kota Jayapura yang merupakan jajaran pegunungan membentang dari barat ke timur sejauh 36 kilometer. Bentang ini ibarat benteng pelindung bagi para warga di dataran Jayapura.

Kata “Cycloop” yang disematkan pada bentangan pegunungan ini konon dari bahasa Belanda “Cycoon Op”yang memiliki arti: awan-awan kecil yang berada di puncak gunung. Pegunungan yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura ini memiliki puncak tertinggi, diantaranya Gunung Dafonsoro (1.580 mdpl), Gunung Butefon (1.450 mdpl), dan Gunung Robhong (1.970 mdpl).

Bentangan Pegunungan Cycloop diresmikan sebagai cagar alam pada tahun 1978 dan dikukuhkan pada tahun 1987. Data tahun 2012, mencatat luas cagar alam Pegunungan Cycloop ini mencapai 31.479 hektar dan memiliki beberapa ekosistem yaitu hutan hujan dataran rendah, hutan pegunungan, hutan sekunder, dan padang rumput.

Sekadar diketahui, kini hutan sebagai kawasan penyangga (buffer zone) yang berada dalam bentangan Pegunungan Cycloop, baik dari wilayah Kota Jayapura hingga Kabupaten Jayapura ini, telah banyak yang rusak parah. Ini akibat letaknya yang dekat dengan pusat perkembangan kota. Sehingga bentangan saat ini rentan dan tertekan oleh berbagai macam bentuk perambahan hutan dan pemukiman warga.

Tekanan terbesar bagi bentangan Pegunungan Cycloop, datangnya dari perambahan dan deforestasi terhadap bentangan Pegunungan Cycloop, mulai dari wilayah Pasir 2, Angkasa, Kota Jayapura, Polimak, Entrop, Kotaraja, Abepura, Waena, hingga masuk ke wilayah Kabupaten Jayapura hingga wilayah Doyo.

Saat ini jumlah masyarakat yang mendiami seluruh wilayah yang memasuki secara langsung bentangan Pegunungan Cycloop diperkirakan berkisar 400 ribu jiwa yang terdiri dari 15 kampung, baik yang berada di Kota Jayapura maupun di Kabupaten Jayapura.

Berdasarkan cermatan WWF-Papua, kawasan kritis di Cycloop diperkirakan seribuan hektar akibat pembukaan lahan dan pemukiman warga yang masuk ke kawasan ini. Padahal, bentangan pegunungan ini adalah kawasan penyangga bagi pemukiman warga di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura yang ada di dataran rendahnya, termasuk sebagai sumber utama air bersih bagi warga di dua wilayah itu.

Lazore 



Menyingkap Tabir Menguak Fakta