RADAR JP : Erupsi Gunung Krakatau Diduga Penyebab Tzunami Di Selat Sunda

INDONESIA, Jawara Post—Letusan Anak Gunung Krakatau, yang disinyalir turut menyebabkan tsunami di Selat Sunda, pada Sabtu (22/12) kemarin, menewaskan ratusan orang. Faktanya, Anak Gunung Krakatau sudah kerap beraktivitas sebelum erupsi tadi malam, bahkan sudah diingatkan menyandang status waspada sejak Juni 2018.

Berdasarkan catatan pemberitaan detikcom, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus meningkat sejak 18 Juni 2018. Bulan-bulan selanjutnya dari Juli hingga November, erupsi terus terjadi. Terakhir pada 22 Desember, erupsi ini diduga menyebabkan tsunami yang mengerikan di Banten dan Lampung.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terus dipantau dan dikaji. Terutama setelah menyusul terjadinya tsunami yang diduga diakibatkan longsoran di bawah laut dan masih terjadi hingga sekarang.

“Longsor (di bawah laut) masih terjadi terus,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, saat konferensi pers di Kantor BPBD DIY, Minggu (23/12/2018).

“Longsor bawah laut yang diakibatkan oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus dilakukan kajian, penelitian oleh BMKG, Badan Geologi, BPPT, dan KKP,” lanjut Sutopo.

Berdasarkan informasi dari BMKG yang disampaikan ke BNPB, tsunami di pesisir Selat Sunda dikarenakan dua hal. Pertama karena aktivitas Gunung Anak Krakatau, kedua karena gelombang pasang karena bulan purnama.

“Jadi kalau statemen resmi yang disampaikan BMKG faktor penyebab tsunami adalah longsoran bawah laut yang disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang kebetulan terjadi bersamaan dengan gelombang pasang,” paparnya.

Sementara BMKG, lanjut Sutopo, hingga kini belum memiliki alat pendeteksi dini tsunami yang dikarenakan longsoran bawah laut dan aktivitas Gunung Berapi. Oleh karenanya, bencana tsunami kemarin tidak terdeteksi.

“Jadi tadi yang saya sampaikan begitu sulitnya mendeteksi tadi (tsunami di pesisir Selat Sunda). Sebelumnya kalau kita melihat pada pukul 21.03 WIB tadi malam Gunung Anak Krakatau erupsi,” paparnya.

“Tidak ada intensitas yang besar (di Gunung Anak Krakatau) dan peristiwa ini juga tidak diakibatkan oleh aktivitas gempa. Jadi itu menunjukkan begitu sulitnya untuk menyampaikan peringatan tsunami yang disebabkan aktivitas Gunung Berapi,” tutupnya.

Jumlah korban tewas tsunami di Selat Sunda kembali dilaporkan bertambah. Saat ini dilaporkan korban tewas diketahui menjadi 222 orang.


“Jumlah korban dan kerusakan akibat tsunami yang menerjang wilayah pantai di Selat Sunda terus bertambah. Data sementara yang berhasil dihimpun Posko BNPB hingga Minggu 23/12/2018, pukul 16.00 WIB, tercatat 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka, dan 28 orang hilang,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (23/12/2018).

Sutopo menjelaskan, update terbaru sebanyak 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, serta 350 kapal dan perahu rusak.

“Tidak ada korban warga negara asing. Semua warga Indonesia. Korban dan kerusakan ini meliputi di 4 kabupaten terdampak, yaitu di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, dan Tanggamus,” ujar Sutopo.

Menurut Sutopo, jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah. Terutama karena belum semua lokasi bisa dijangkau dan didata.

“Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah karena belum semua korban berhasil dievakuasi, belum semua puskesmas melaporkan korban dan belum semua lokasi dapat didata keseluruhan. Kondisi ini menyebabkan data akan berubah,” jelas Sutopo.

Berikut ini rincian lokasi penemuan korban tewas dan luka hingga hilang:

1. Kabupaten Pandeglang
Sebanyak 164 orang meninggal dunia, 624 orang luka-luka, 2 orang hilang. Kerusakan fisik meliputi 446 rumah rusak, 9 hotel rusak, 60 warung rusak, 350 unit kapal dan perahu rusak, serta 73 kendaraan rusak. Daerah yang terkena dampak berada di 10 kecamatan. Lokasi yang banyak ditemukan korban adalah di Hotel Mutiara Carita Cottage, Hotel Tanjung Lesung, dan Kampung Sambolo.

2. Kabupaten Serang
Sebanyak 11 orang meninggal dunia, 22 orang luka-luka, dan 26 orang hilang. Kerusakan bangunan masih dilakukan pendataan.

3. Kabupaten Lampung Selatan
Tercatat 48 orang meninggal dunia, 213 orang luka-luka, dan 110 rumah rusak.


4. Kabupaten Tanggamus
Terdapat 1 orang meninggal dunia.

“Alat berat dikerahkan membantu evakuasi. Saat ini sedang bekerja 5 unit ekskavator, 2 unit loader, 2 unit dump truck, dan 6 unit mobil tangki air. Bantuan alat berat akan ditambah. Jumlah pengungsi masih dalam pendataan.

Timredaksi



Menyingkap Tabir Menguak Fakta