Radar JP : Tahukah Anda Nafsu itu Bagaimana, Simak tulisan ini

NAFSU….. adalah bagian dari kehidupan. Anda akan terperanjak, terbelalak saat membaca judul tulisan ini. Wajar sebagai manusia yang terlahir dari nafsu. Nafsu itu datang dari mata lelaki, lalu turun ke alam imajinasi dan mendarat di hasrat untuk memiliki.

Sementara, nafsu dalam perempuan itu melalui sentuhan rasa nyaman dari dalam hati lalu menyejarah bersama indahnya kehidupan.

Di sini saya bukan membahas nafsu yang berkaitan dengan seks dan seksualitas. Karena seks dan seksualitas itu berbeda makna. Seks adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Sementara, seksualitas itu adalah yang berkaitan dengan segala dimensi kehidupan sosial dan budaya. Pembahasan saya menyangkut keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kebutuhan Sandang, Pangan dan Papan adalah tiga hal yang berkaitan erat. Layaknya handphone dan kuota internet.

Sejauh interpretasi saya mengenai segala fenomena di lingkungan kerja, saya menemukan kejanggalan bagi seorang pencari kerja/jobseeker. Di mana, mereka bernafsu untuk segera bekerja.

Mereka melamar ke berbagai lowongan yang tersedia secara daring. Maupun dari mulut ke mulut. Seperti para sales yang menawarkan jasanya kepada customernya.

Ada yang berhasil diterima kerja. Ada yang belum beruntung. Bagi yang sudah bekerja masuk melalui pintu secara manusiawi.

Setelah sekian lama bekerja, ada yang keluar. Karena tiada kecocokkan pekerjaan dengan ekspektasi.

Mereka keluar tanpa melalui pintu awal. Karena nafsu untuk menerima pekerjaan di tempat lain. Mereka keluar begitu saja. Tanpa berterima kasih kepada pemilik perusahaan. Bahkan lebis sadis, mereka menjelekkan atasan mereka di tempat kerja yang baru.

Fenomena ini sangat riil/nyata di dalam keseharian kita. Bila kita meninggalkan pekerjaan lama, alangkah lebih baiknya kita membangun komunikasi yang baik dengan atasan. Karena tiada masalah tanpa solusi. Intinya adanya keterbukaan.

Terbuka berarti kita melatih diri untuk lebih dewasa dalam berkata dan bertindak. Terbuka juga berarti kita siap memperbaiki dan meng-upgrade diri dengan segala kemungkinan yang terjadi di era digital ini.

Atau dalam bahasa kerennya adalah “adaptasi.” Adaptasi adalah proses di mana kita menghargai nafsu awal kita bekerja. Nafsu/motivasi awal kita bekerja adalah menghidupi diri sendiri, keluarga dan orang tua. Namun, apa boleh buat, bila kita bernafsu meninggalkan pekerjaan, hanya karena masalah mis-komunikasi.

Mencintai proses di dunia kerja itu butuh kesabaran ekstra. Kita harus mampu mengendalikan hasrat untuk menguasai orang lain.

Karena sesama adalah bagian dari diri kita. Oleh karena itu, saling menjaga itu adalah pintu relasi abadi. Walau pun kita hanya numpang bersua di tempat kerja seminggu, sebulan bahkan setahun

Intinya adalah kita masuk dengan cara yang baik, kita keluar pun dengan cara yang baik. Agar kita jangan menciptakan duri dalam perjalanan kita bersama orang lain. Inilah makna dari judul tulisan di atas.

#jawarapost



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *