{"id":1490,"date":"2018-08-04T04:49:52","date_gmt":"2018-08-04T04:49:52","guid":{"rendered":"http:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/?p=1490"},"modified":"2018-08-04T04:49:52","modified_gmt":"2018-08-04T04:49:52","slug":"artikel-otodidak-dan-eksperimen-is-the-best-teacher","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/artikel-otodidak-dan-eksperimen-is-the-best-teacher\/","title":{"rendered":"Artikel : Otodidak dan Eksperimen is The Best Teacher"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<h5 class=\"title\" style=\"text-align: center;\"><strong>&#8220;Sekolah Tidak Mengajarkanmu Segalanya. Hal-hal Berikut Justru Hanya Bisa Kamu Dapatkan Dengan Hidup di Luar Sana&#8221;<\/strong><\/h5>\n<p><strong>\u00a0 \u00a0\u00a0 Oleh :\u00a0 Siantita Novaya<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<p><em><strong>Waktu kecil<\/strong><\/em> dulu kita selalu didorong agar berprestasi di sekolah. Kita \u2018sah\u2019 disebut pintar jika mendapat angka 10 saat ulangan, rajin mencatat pelajaran, punya raport bagus, dan mematuhi guru. Anak-anak yang tidak memenuhi kriteria di atas akan rawan dicap malas, nakal, atau bodoh.<\/p>\n<p>Padahal, tak semua anak cocok dengan lingkungan sekolah. Tidak menjadi yang terbaik di bidang akademik pun bukan berarti kamu bodoh, karena sekolah tak mengajarkan semua hal\u00a0penting dalam hidup. Memang, matematika, bahasa Inggris, ilmu alam, kedisiplinan dan\u00a0berbagai pelajaran\u00a0fundamental lainnya kita dapatkan di sekolah.\u00a0<a href=\"http:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/jawara-post\/\">Jawara Post<\/a> Tapi tempat itu tidak mengajarkan pada kita hal-hal di bawah ini, yang tak kalah pentingnya untuk membentuk hidup yang berguna.<\/p>\n<p>Hanya dengan benar-benar hidup dan menimba pengalaman di luar sekolahlah, kita bisa\u00a0menguasai hal-hal ini<\/p>\n<h3>1. Kemampuan bernegosiasi tak bisa didapat hanya dengan mencatat pelajaran.\u00a0Agar mampu membela kepentinganmu sendiri di masa depan, kamu harus berani angkat bicara di hadapan orang<\/h3>\n<p>Kebanyakan sekolah jarang sekali menanamkan pentingnya negosiasi. Seringkali kita menerima begitu saja semua ilmu yang diberikan guru tanpa mencernanya terlebih dahulu. Peraturan sekolah pun sudah ada dari sananya, dan murid tidak pernah diberikan kesempatan untuk menegosiasikan apa yang memang mereka inginkan.<\/p>\n<div class=\"ads-wrapper mid-banner\">\n<div class=\"ads-box\">\n<div id=\"div-gpt-ad-1533038791228-0\">\n<p>Padahal, kemampuan berpikir kritis dan keberanian untuk angkat bicara sangat dibutuhkan ketika kamu sudah lulus sekolah dan bergelut ke dunia kerja. Untuk berbicara dengan klien, presentasi ide dan proyek, menyelesaikan masalah dengan kolega di kantor, hingga membicarakan gaji, kamu harus punya kemampuan negosiasi yang mencukupi.<\/p>\n<p>Hanya dengan berpartisipasi di berbagai organisasi dan kepanitiaanlah kemampuan negosiasimu bisa dilatih. Dengan ini, kamu didorong untuk bekerja sama dengan orang lain, mencari pola kerja yang paling baik untukmu dan mereka. Kamu juga akan ditantang dengan mencari dana pembiayaan proyek organisasimu, yang tentu menuntutmu untuk bernegosiasi dengan meyakinkan di hadapan calon sponsor. Keahlian ini tak bisa didapatkan hanya dengan mendongak ke papan tulis dan mencatat pelajaran, bukan?<\/p>\n<h3>2. Dunia di luar sana tak selamanya aman. Namun sekolah jarang sekali mengajarkan ilmu\u00a0bela diri<\/h3>\n<p>Membela diri adalah bagian tak terpisahkan dalam hidup, karena hidup ini tak selamanya aman. Apalagi melihat hebohnya begal akhir-akhir ini.<\/p>\n<p>Setiap orang harus mengetahui bagaimana cara membela diri, walaupun itu hanya dasar-dasarnya saja. Bukan berarti mengajarkan kekerasan, lebih kepada memastikan kamu tahu apa yang harus dilakukan ketika situasi sedang tidak aman. Indonesia punya pencak silat sebagai olahraga bela diri. Kenapa tidak pernah ada sekolah yang mencoba mengajarkannya dalam kurikulum?<\/p>\n<h3>3. Kemampuan bersosialisasi juga hanya bisa kamu dapatkan di luar kelas. Karena di dalam kelas, kamu\u00a0bahkan tak boleh mengobrol jika tak ingin dibilang nakal<\/h3>\n<p>Kamu pasti senang, dong,\u00a0ketika\u00a0mengatur isi profil di <i>Facebook? <\/i>Menulis apa hobi kamu, dan apa saja kesukaanmu.\u00a0Itu membuktikan bahwa hidup\u00a0mengajarkanmu untuk membentuk identitasmu sendiri untuk menyiapkan dirimu agar mampu untuk bersosialisasi. <a href=\"http:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/jawara-post\/\">Jawara Post<\/a>Di manapun kamu bersekolah, kamu tetap kamu, yang memiliki segudang keunikan yang mungkin nggak dimiliki orang lain.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1492 size-full aligncenter\" src=\"http:\/\/www.jawarapost.com\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/otodidak-2.jpg\" alt=\"\" width=\"670\" height=\"447\" srcset=\"https:\/\/www.jawarapost.com\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/otodidak-2.jpg 670w, https:\/\/www.jawarapost.com\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/otodidak-2-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 670px) 100vw, 670px\" \/><\/p>\n<p>Namun, kemampuan sosialisasi ini hanya bisa kamu miliki ketika kamu sudah terlatih mengobrol bersama orang lain. Kemampuan ini juga hanya bisa berkembang ketika kamu peka pada perasaan orang lain, pada apa yang mereka suka dan tak suka. Bagaimana mungkin semua hal ini bisa kamu asah ketika kamu hanya berkutat di ruang kelas saja? Di dalam ruangan itu, mengucapkan sepatah-dua patah kata saja kamu tak bisa\u2026<\/p>\n<h3>4. Pintar bahasa Inggris juga tak menjaminmu bisa membetulkan peralatan rumah. Kalau kipas angin rusak, AC\u00a0bermasalah, dan tivi tak mau menyala, kamu harus memanggil tukang untuk membenarkannya<\/h3>\n<p>Sayang sekali sekolah tak mengajarkan bagaimana caranya membetulkan barang-barang rumahan. Karena semakin kamu dewasa, maka akan semakin kamu mengerti bahwa ada sebuah keharusan bagimu untuk mengerti bagaimana cara memperbaiki peralatan rumah. Tukang juga tak selalu bisa\u00a0dipanggil kapan saja \u2014 bagaimana seandainya kipas angin kita macet tengah\u00a0malam? Ketika kita tak bisa membenarkan kerusakan sederhana pada mesin kipas angin itu, siap-siap saja deh kepanasan semalaman.<\/p>\n<h3>5.\u00a0Hidup yang seimbang pun tak ada pelajarannya. Kita harus berjuang menemukan formula yang tepat seiring dewasa<\/h3>\n<p>Sekolah mengajarkanmu untuk bekerja keras untuk memperoleh nilai yang baik, namun itu tidak sepenuhnya mengajarkanmu kemampuan untuk menyeimbangkan kemampuanmu yang sebenarnya supaya kamu mencapai kebaikan di segala aspek. Membangun\u00a0<em>quality time<\/em>\u00a0bersama orang-orang tersayang,\u00a0sambil merintis usaha, dan sambil memastikan bahwa tetap ada\u00a0waktu senggang untuk sendirian bukanlah hal yang mudah. Mencapai keseimbangan diperlukan untuk memiliki hidup yang membahagiakan. Dan kamu hanya bisa mempelajari cara mencapai keseimbangan seiring kamu dewasa, bukan dengan diam di dalam kelas sana.<\/p>\n<h3>6.\u00a0Kamu pun tak bisa tiba-tiba pandai memasak hanya karena mendapatkan nilai 10 di pelajaran Kimia<\/h3>\n<p>Kalian yang anak kost seharusnya punya kemampuan untuk\u00a0memasak dengan <em>budget <\/em>terbatas. Namun, kemampuan ini tidak pernah diajarkan di sekolah. Ketika kalian akan\u00a0menikah, buru-buru deh harus belajar!<\/p>\n<h3>7. Sekolah juga tak mengajarkanmu bahwa \u2014 meski segala hal di dunia memakai uang \u2014 uang\u00a0bukanlah segalanya<\/h3>\n<p>Sedari kecil kita selalu ditanamkan bahwa jika mendapat nilai yang bagus makan masa depan kita akan cerah dan jika masa depan cerah maka kehidupan finansial akan terjamin. Namun perlu Hipwee tekankan bahwa uang bukanlah sumber kebahagiaan kita. Terdengar klasik sih, tapi memang begitu adanya. Kekayaan dan kebahagiaan adalah dua hal yang berbeda, uang akan menjadi sesuatu yang merugikan jika dikendalikan oleh orang yang salah, namun kebahagiaan akan selalu begitu adanya, sederhana dan menentramkan.<\/p>\n<h3>8. Sementara kemampuan belajar dari kegagalan hanya bisa kamu asah setelah berkali-kali gagal<\/h3>\n<p>Belajar dari kegagalan bukanlah tujuan utama sekolah. Sekolah akan mengajarkanmu bagaimana untuk berhasil duduk di peringkat pertama. <a href=\"http:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/jawara-post\/\">Jawara Post<\/a>Pelajaran menarik untuk diri sendiri, karena kini kita menyadari bahwa jika semua dipandang dari satu sisi saja, semua siswa pasti akan gagal ujian kelulusan. Namun tidak ada kegagalan yang sia-sia jika kita belajar untuk menerima dan memaknainya. Mempelajari apa yang salah dan mengapa sesuatu tidak berjalan seperti seharusnya dapat membantumu untuk menentukan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi sehingga ke depannya kamu akan menjadi pribadi yang lebih kuat.<\/p>\n<h3>9. Kemampuan yang terpenting dan tak ada pelajarannya di sekolah, adalah kemampuan untuk memaafkan<\/h3>\n<p>Memang susah untuk memaafkan orang yang telah membuatmu bersedih. Dan bahkan lebih sulit bagimu untuk benar-benar memaafkannya\u00a0daripada sekadar\u00a0berpura-pura di depannya. Belajar bagaimana memaafkan hal-hal yang membuatmu bersedih dan <em>move on<\/em> adalah kemampuan yang jelas tidak kamu dapatkan di bangku sekolah karena membutuhkan kesabaran dan pengertian.<\/p>\n<p>Pada akhirnya kemampuan-kemampuan yang secara tidak langsung kamu dapatkan itu akan membantumu untuk mengerti orang lain, belajar untuk merasakan bagaimana jika kamu menjadi mereka, dan kamupun akan lebih berhasil dalam membangun karaktermu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Sekolah Tidak Mengajarkanmu Segalanya. Hal-hal Berikut Justru Hanya Bisa Kamu Dapatkan Dengan Hidup di Luar Sana&#8221; \u00a0 \u00a0\u00a0 Oleh :\u00a0 Siantita Novaya Waktu kecil dulu kita selalu didorong agar berprestasi di sekolah. Kita \u2018sah\u2019 disebut pintar jika mendapat angka 10 saat ulangan, rajin mencatat pelajaran, punya raport bagus, dan mematuhi guru. Anak-anak yang tidak memenuhi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1491,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[7,2],"tags":[104],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1490"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1490"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1490\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1493,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1490\/revisions\/1493"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1491"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}