{"id":19075,"date":"2020-07-19T11:53:19","date_gmt":"2020-07-19T04:53:19","guid":{"rendered":"http:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/?p=19075"},"modified":"2020-07-19T11:53:19","modified_gmt":"2020-07-19T04:53:19","slug":"ntb-keluarga-nurdin-sesalkan-tindakan-petugas-rapid-tes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/ntb-keluarga-nurdin-sesalkan-tindakan-petugas-rapid-tes\/","title":{"rendered":"NTB : Keluarga Nurdin Sesalkan Tindakan Petugas Rapid tes"},"content":{"rendered":"<div class=\"td-header-template-wrap\">\n<div class=\"td-header-mobile-wrap\">\n<div id=\"tdi_1_113\" class=\"tdc-zone\">\n<div class=\"tdc_zone tdi_2_1d3  wpb_row td-pb-row tdc-element-style\">\n<div id=\"tdi_3_558\" class=\"tdc-row\">\n<div class=\"vc_row tdi_4_3d5  wpb_row td-pb-row\">\n<div class=\"vc_column tdi_6_553  wpb_column vc_column_container tdc-column td-pb-span12\">\n<div class=\"wpb_wrapper\"><span style=\"color: #ff6600;\"><strong>BIMA<\/strong><\/span>,\u00a0 <a href=\"http:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/jawara-post\/\">Jawara Post<\/a>-Keluarga pasien reaktif rapid test asal Desa Boro Kecamatan Sanggar geram dengan tindakan petugas medis Puskemas setempat. Para petugas yang berjumlah belasan orang itu mendatangi rumah keluarga pasien tanpa pemberitahuan lebih awal.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"tdb-autoload-article\" data-autoload=\"off\" data-autoload-org-post-id=\"242402\" data-autoload-type=\"\" data-autoload-count=\"5\">\n<div class=\"td-main-content-wrap td-container-wrap\">\n<div class=\"tdc-content-wrap\">\n<article id=\"template-id-269\" class=\"post-269 tdb_templates type-tdb_templates status-publish post\">\n<div id=\"tdi_68_d3a\" class=\"tdc-zone\">\n<div class=\"tdc_zone tdi_69_d6b  wpb_row td-pb-row\">\n<div id=\"tdi_95_3d3\" class=\"tdc-row stretch_row_1200 td-stretch-content\">\n<div class=\"vc_row tdi_96_a03  wpb_row td-pb-row\">\n<div class=\"vc_column tdi_98_ffa  wpb_column vc_column_container tdc-column td-pb-span8\">\n<div class=\"wpb_wrapper\">\n<div class=\"vc_row_inner tdi_101_371  vc_row vc_inner wpb_row td-pb-row\">\n<div class=\"vc_column_inner tdi_103_111  wpb_column vc_column_container tdc-inner-column td-pb-span12 td-is-sticky\">\n<div class=\"vc_column-inner\">\n<div class=\"wpb_wrapper\">\n<div class=\"td_block_wrap tdb_single_content tdi_104_aad td-pb-border-top td_block_template_2 td-post-content tagdiv-type\" data-td-block-uid=\"tdi_104_aad\">\n<div class=\"tdb-block-inner td-fix-index\">\n<p>Keluarga pasien sempat emosi karena tiba-tiba didatangi petugas. Bahkan mereka menilai tindakan petugas medis seolah-olah seperti menangkap penjahat. \u201cKami bukan tidak ingin dirapid test. Tapi, tidak begini caranya,\u201d sesal Nurdin, orang tua AD, pasien reaktif rapid test.<\/p>\n<p>Nurdin bersama istri dan dua anak kembarnya menjadi sasaran tracking contack petugas. Setelah salah satu dari anggota keluarga mereka, AD dinyatakan reaktif rapid test di RS Sondosia, Kamis (9\/7) lalu.<\/p>\n<p>AD menjalani rapid tes di RS Sondosia sebagai syarat bagi pelaku perjalanan. Karena saat itu AD ingin bepergian ke Makassar. Selasa (14\/7), pasca AD dinyatakan reaktif rapid test, petugas Puskesmas Sanggar melakukan tracking contack.<\/p>\n<p>Sebanyak 16 orang petugas dengan APD lengkap mendatangi rumah keluarga AD untuk dirapid test. Termasuk diantaranya, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Desa Boro Zainal Arifin dan Kepala Puskesmas Sanggar.<\/p>\n<p>Kadatangan petugas tersebut justru membuat pihak keluarga geram. Sebagai kepala keluarga, Nurdin menyayangkan tindakan petugas. Setidaknya dia berharap ada pemberitahuan awal dari petugas. Baik melalui surat atau via handphone.<\/p>\n<p>\u201cOrang yang melanggar hukum saja baru akan dijemput paksa setelah tidak mengindahkan tiga kali pemanggilan. Kita yang tidak tahu apa-apa, justru diperlakukan seperti penjahat,\u201d protes Nurdin.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu, Nurdin juga menyesalkan tindakan petugas usai pengambilan sampel darah pada istri dan dua anak kembarnya. Apalagi usai pengambilan sampel darah tersebut, dua anaknya tampak lemas.<\/p>\n<p>\u201cJangankan susu atau telur, air putih saja tidak diberikan. Dimana hati nurani mereka,\u201d keluhnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, dia juga mendapat kabar bahwa anaknya yang dikarantina tidak diperlakukan dengan baik. Tempat karantina yang seharusnya menyehatkan pasien, tapi jauh dari kata layak. WC tidak berfungsi, jendela ruangan tidak dipasangi gorden, hingga sabun cuci tangan pun tidak disiapkan.<\/p>\n<p>\u201cYang jelas saya tidak tinggal diam dengan persoalan ini. Saya akan mengirimkan surat keberatan pada Kemenkes dan Komnas HAM,\u201d tegas Nurdin.<\/p>\n<p>Kondisi ruang karantina tersebut dikeluhkan AD. Mahasiswi di salah satu universitas di Makasar ini mengaku selama menjalani karantina merasa ketakutan.<\/p>\n<p>\u201cDua hari pertama saya sendirian di ruangan. Mana jendelanya tidak punya gorden. Kalau tidur saya tutupi pakai sajadah,\u201d tutur AD, via telpon, Jumat (17\/7).<\/p>\n<p>Dia tidak menampik dengan pelayanan petugas kesehatan di RS setempat. Terutama konsumsi, tetap rutin tiga kali sehari. Hanya saja, dia mengeluhkan WC dalam ruangan isolasi buntu. Begitupun pelengkapan mandi, seperti sabun untuk cuci tangan tidak disiapkan. \u00a0\u201cKalau mau buang air kita ke WC di luar ruangan. Kadang WC itu juga dipakai\u00a0 keluarga pasien lain,\u201d tutur AD.<\/p>\n<p>Selama karantina dia mengaku sudah menjalani tes Swab dua kali. Pertama pada Kamis sore (9\/7) dan kedua pada\u00a0 Selasa (14\/7). Namun, hasil dua kali Swab tersebut, hingga kini belum diketahui. \u201cSaya baru seminggu di karantina. Ada juga yang lain sudah 11 hari, tapi hasil swabnya belum juga keluar,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p>Sementara Kades Boro Zainal Arifin mengakui tidak ada pemberitahuan awal dari petugas saat mendatangi rumah keluarga Nurdin. Dia juga tidak menduga kejadiannya bakal seperti ini. \u201cTindakan ini berlaku secara umum. Karena biasanya, ketika ada salah satu dari pihak keluarga yang reaktif, maka keluarga yang kontak dengan pasien harus dirapid test,\u201d jelas Zaina Arifin via HP, Jumat (17\/7).<\/p>\n<p>Zainal mengaku, ikut bersama petugas karena ditelpon bidan desa. Sempat terjadi penolakan dari Nurdin dengan kehadiran petugas. Apalagi bidan dan beberapa petugas puskesmas yang turun adalah mantan siswanya di SMAN 1 Sanggar. \u201cNurdin sampai menanyakan surat perintah pada petugas Puskesmas maupun Babinsa dan Babinkantibmas,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Namun pada akhirnya kata dia, Nurdin bisa menerima kehadiran petugas, bahkan sempat kelakar. Kendati Nurdin sendiri menolak untuk dirapid test. \u201cAlhamdulilah, hasil rapid test isteri dan dua anak kembarnya negatif,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<\/div>\n<p><span style=\"color: #000080;\"><strong>Riwansyah<\/strong><\/span><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BIMA,\u00a0 Jawara Post-Keluarga pasien reaktif rapid test asal Desa Boro Kecamatan Sanggar geram dengan tindakan petugas medis Puskemas setempat. Para petugas yang berjumlah belasan orang itu mendatangi rumah keluarga pasien tanpa pemberitahuan lebih awal. Keluarga pasien sempat emosi karena tiba-tiba didatangi petugas. Bahkan mereka menilai tindakan petugas medis seolah-olah seperti menangkap penjahat. \u201cKami bukan tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19076,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19075"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19075"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19075\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19077,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19075\/revisions\/19077"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19076"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}