{"id":30382,"date":"2025-11-06T22:40:41","date_gmt":"2025-11-06T15:40:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/?p=30382"},"modified":"2025-11-06T22:40:41","modified_gmt":"2025-11-06T15:40:41","slug":"air-mata-keadilan-di-balik-dinding-pesantren-berdosa-itu-semua-yang-berusaha-membungkam-kebenaran-h-ilyas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/air-mata-keadilan-di-balik-dinding-pesantren-berdosa-itu-semua-yang-berusaha-membungkam-kebenaran-h-ilyas\/","title":{"rendered":"Air Mata Keadilan di Balik Dinding Pesantren \u201cBerdosa itu semua yang berusaha membungkam kebenaran.\u201d \u2013 H. Ilyas"},"content":{"rendered":"<p><strong>PROBOLINGGO, <\/strong><em>Jawara Post \u2013<\/em>Siang itu, di sebuah warung kopi sederhana di wilayah Kraksaan, beberapa wartawan dan pegiat lembaga swadaya masyarakat duduk bersama. Suasana tampak santai, tapi isi percakapan mereka jauh dari ringan. Mereka membahas satu perkara yang mengguncang nurani: dugaan kekerasan seksual di pondok pesantren Desa Sumberkerang, Kecamatan Gending.<\/p>\n<p>Di tengah diskusi itu, suara H. Ilyas, advokat senior yang dikenal berani bersuara lantang, terdengar tajam namun sarat empati.<br \/>\n\u201cBerdosa itu semua yang berusaha membungkam kasus ini,\u201d ucapnya tegas, disambut anggukan pelan dari beberapa peserta yang ikut menyimak.<\/p>\n<p>Ia lalu mengutip sabda Rasulullah SAW: \u201cMan ra\u2019a minkum munkaran fal yughoyyirhu biyadih\u201d \u2014 Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya.<br \/>\n\u201cSekecil apapun upaya menegakkan kebenaran, malaikat akan mencatatnya sebagai amal ibadah,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Kata-kata itu membuat suasana sejenak sunyi. Asap kopi mengepul pelan di antara meja kayu yang penuh bercak hitam, menjadi saksi bahwa siang itu, yang dibicarakan bukan sekadar hukum, tapi juga nurani.<br \/>\nSebab pondok pesantren \u2014 tempat suci untuk menanam ilmu dan akhlak \u2014 tak seharusnya menjadi tempat lahirnya luka dan air mata.<\/p>\n<p>\u201cJangan karena itu anak kiai, lalu kita tutup-tutupi,\u201d ujar H. Ilyas.<br \/>\n\u201cHukum tidak hanya untuk anak petani atau kuli. Sekalipun itu anak kiai, kalau salah ya tetap salah.\u201d<\/p>\n<p>Ia mengingatkan, Islam tidak mengajarkan untuk berdiam diri di hadapan kemungkaran.<br \/>\n\u201cQulil haq walau kana murron, katakanlah yang benar walau pahit,\u201d katanya dengan suara mantap.<br \/>\n\u201cSekalipun itu pengasuh pesantren, kalau berperilaku buruk ya tetap buruk. Biar publik tahu, jangan malah ditutup-tutupi.\u201d<\/p>\n<p>Sementara itu, Bang Lutfi dari L3GAM menimpali dengan nada getir.<br \/>\n\u201cTidak ada toleransi bagi pengasuh pesantren yang menggauli santriwatinya,\u201d tegasnya.<br \/>\n\u201cStatusnya itu seperti orang tua, pendidik, pengasuh. Apakah pantas orang tua menggauli anaknya, meskipun berdalih suka sama suka!?\u201d<\/p>\n<p>Diskusi siang itu bukan sekadar obrolan warung kopi, melainkan panggilan nurani. Sebuah peringatan bahwa pondok pesantren sejatinya taman akhlak, bukan benteng gelap yang menyembunyikan keburukan.<\/p>\n<p>\u201cKalau Nabi saja berkata, \u2018jika anak saya mencuri akan saya potong tangannya,\u2019 maka siapa kita yang berani membela kesalahan?\u201d pungkas H. Ilyas.<\/p>\n<p>Percakapan pun berakhir. Tapi pesan moralnya tak berhenti di situ. Di bawah langit siang yang terik, semua yang hadir paham \u2014 kebenaran tak boleh dibiarkan padam, bahkan di tengah panasnya dunia. (Fik)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PROBOLINGGO, Jawara Post \u2013Siang itu, di sebuah warung kopi sederhana di wilayah Kraksaan, beberapa wartawan dan pegiat lembaga swadaya masyarakat duduk bersama. Suasana tampak santai, tapi isi percakapan mereka jauh dari ringan. Mereka membahas satu perkara yang mengguncang nurani: dugaan kekerasan seksual di pondok pesantren Desa Sumberkerang, Kecamatan Gending. Di tengah diskusi itu, suara H. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":30384,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30382"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30382"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30382\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30385,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30382\/revisions\/30385"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30384"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}