{"id":343,"date":"2018-07-07T05:05:34","date_gmt":"2018-07-07T05:05:34","guid":{"rendered":"http:\/\/www.jawarapost.com\/?p=343"},"modified":"2018-07-07T05:05:34","modified_gmt":"2018-07-07T05:05:34","slug":"kolaborasi-bali-dan-thailand-tampilkan-epos-mahabharata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/kolaborasi-bali-dan-thailand-tampilkan-epos-mahabharata\/","title":{"rendered":"Kolaborasi Bali dan Thailand Tampilkan Epos Mahabharata"},"content":{"rendered":"<div class=\"td-container\">\n<article id=\"post-49683\" class=\"post-49683 post type-post status-publish format-standard hentry category-bali category-budaya category-denpasar tag-pestakesenianbali2018 tag-pkb2018 tag-chiang-mai tag-mahabaratha tag-thailand\">\n<div class=\"td-post-header\">\n<p><strong>DENPASAR<\/strong>, Jawara Post\u00a0 \u2013 Tarian teater tradisional dan kontemporer berjudul \u201cMahabharata Lanna-Bali : A Journey of Cultures\u201d berhasil memukau penonton di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat (6\/7). Pentas untuk memeriahkan ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-40 ini merupakan kolaborasi antara seniman Bali dan Thailand bagian utara.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"td-post-content\">\n<p>Siapa sangka, kolaborasi apik ini justru berawal dari hubungan pertemanan tiga sahabat beda negara tersebut. Ketiganya adalah Prof. Waewdao Sirisook, seorang dosen di Chiang Mai University, Thailand, Kadek Dewi Aryani dari Nrittadewi Dance Company, dan Gusti Sudarta dari Bajradnyana Music Theatre. \u201cKita bertiga sudah berteman dari 2005. Kebetulan Prof. Waewdao memang berniat untuk tampil di Bali. Jadi, diajaklah mahasiswa semester 3 Music and Performing Arts. Kemudian karena kita berteman, saya dan Pak Gusti akhirnya ikut mensupport ide ini,\u201d ungkap Dewi Aryani.<\/p>\n<p>Menurut Dewi, persiapan untuk tampil di PKB hanya memakan waktu 3 hari. Sebab, Prof. Waewdao beserta mahasiswanya memiliki waktu terbatas hanya satu minggu saja.<\/p>\n<p>Namun demikian, mereka bertiga sebelumnya telah banyak berdiskusi lewat surat elektronik atau email. Apalagi, ini merupakan kolaborasi pertama mereka di Bali. \u201cKami sering berkomunikasi dan sering bicara tentang kesenian lain juga. Termasuk festival, karena di Chiang Mai juga mau membuat ethnic dance festival Januari tahun depan. Hopefully, bisa undang orang Bali juga ke Thailand,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Prof. Waewdao mengaku datang ke Bali untuk tampil di ajang PKB dengan biaya sendiri dan sponsor. Kendati demikian, pihaknya tetap datang dengan senang hati sepanjang PKB ataupun festival lainnya di Bali masih terbuka untuk mereka.<\/p>\n<p>Bicara materi pementasan di ajang PKB kemarin, memang terinspirasi dari epos Mahabharata. Namun oleh seniman Thailand dibawakan dengan style Lanna dan beberapa sentuhan kreasi kontemporer. \u201cMahabharata diinterpretasikan secara abstrak. Setiap scene menceritakan tentang kejadian-kejadian dalam epos tersebut. Ceritanya mungkin terkesan jumping, karena memang tidak ada ikatan dari sebuah cerita. Cuma penafsiran dari Mahabharata itu sendiri,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, lanjut Prof. Waewdao, karakter dalam Mahabharata diekspresikan sesuai dengan penafsiran masing-masing negara. Dalam hal ini, ada versi Thailand bagian utara dan Bali.<\/p>\n<p>Ia sendiri ikut menari sambil membawa lilin, sebagai simbol api kemarahan atau kekejaman Duryodana yang setiap kali memiliki niat untuk menghancurkan Pandawa. \u201cDari segi cerita, sama antara di Bali dan Thailand. Hanya nama-nama karakter saja yang agak berbeda,\u201d katanya.<\/p>\n<p>@Rindra<\/p>\n<\/div>\n<\/article>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DENPASAR, Jawara Post\u00a0 \u2013 Tarian teater tradisional dan kontemporer berjudul \u201cMahabharata Lanna-Bali : A Journey of Cultures\u201d berhasil memukau penonton di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat (6\/7). Pentas untuk memeriahkan ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-40 ini merupakan kolaborasi antara seniman Bali dan Thailand bagian utara. Siapa sangka, kolaborasi apik ini justru berawal dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":346,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=343"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":348,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343\/revisions\/348"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media\/346"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=343"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=343"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=343"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}