{"id":59,"date":"2018-06-11T08:10:00","date_gmt":"2018-06-11T08:10:00","guid":{"rendered":"http:\/\/www.jawarapost.com\/rokat-sebagai-ungkapan-rasa-syukur-kepada-tuhan\/"},"modified":"2018-06-11T08:10:00","modified_gmt":"2018-06-11T08:10:00","slug":"rokat-sebagai-ungkapan-rasa-syukur-kepada-tuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/rokat-sebagai-ungkapan-rasa-syukur-kepada-tuhan\/","title":{"rendered":"Rokat, Sebagai Ungkapan Rasa Syukur Kepada Tuhan"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/-KZRxhtMiz1s\/Wx4uedkrWNI\/AAAAAAAAANk\/QwZn4_5my_Aj65Qi39kKWDGnnh--H2HJACLcBGAs\/s1600\/is.jpg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" border=\"0\" data-original-height=\"209\" data-original-width=\"341\" height=\"392\" src=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/-KZRxhtMiz1s\/Wx4uedkrWNI\/AAAAAAAAANk\/QwZn4_5my_Aj65Qi39kKWDGnnh--H2HJACLcBGAs\/s640\/is.jpg\" width=\"640\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>MADURA, Jawara Post<\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, maka <em>rokat<\/em> dijadikan momentum untuk jalan tarekat. Yaitu, sebuah formulasi  kegiatan yang di dalamnya sayarat dengan muatan adat. Budaya ini sudah  dilakukan secara turun temurun, dari generasi ke generasi meski dalam  pelaksanaannya tetap mengikuti perkembangan zaman. Namun, hakikat dari <em>rokat <\/em>itu sendiri masih tetap nampak jelas dalam upacara ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Syukur dilakukan agar nikmat yang kita  terima semakin berkah, dan keberkahan-keberkahan itu selalu kita  dapatkan di masa-masa yang akan datang. Syukur tidak sebatas diucapkan  (secara lisan ungkapan syukur, ya) tetapi harus direalisasikan dengan  cara usaha yang maksimal disertai dengan doa yang tak berpantang. Dengan  cara demikian, syukur akan mempunyai nilai lebih, baik sebagai bentuk  penghambaan dan upaya atau ikhtiar yang maksimal.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Sebagai Ajang Silaturrahmi<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ketika upacara <em>rokat<\/em>  dilaksanakan, sanak famili, handai tolan, dan masyarakat secara  keseluruhan berbondong-bondong menghadiri tata cara adat ini. Dengan  demikian, sudah sangat jelas bahwa di dalam upacara <em>rokat<\/em> ini  ada ajang silaturrahmi. Sudah menjadi kesepakatan agama (baca: Islam)  bahwa silaturrahmi adalah bentuk komunikasi sosial yang berdampak baik  untuk kehidupan bermasyarakat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Membangun hubungan yang baik antar masyarakat adalah suatu kebajikan. Di dalam upacara adat <em>rokat<\/em> ini juga terkandung nuansa sosial yang akan berdampak baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam upacara adat budaya <em>rokat<\/em> terdapat banyak manfaat untuk hubungan masyarakat yang ideal.<\/div>\n<div style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"><a href=\"http:\/\/www.lontarmadura.com\/rokat-sebagai-ungkapan-rasa-syukur-kepada-tuhan\/#ixzz5I6O4ogNL\" style=\"color: #003399;\"><\/a>Silaturrahmi telah terbangun di dalam upacara <em>rokat<\/em>. Maka,  sangat penting bagi kita untuk menjaga kelestarian upacara rakyat ini.  Salah satu alternatif dalam menjaga kelestarian adat ini adalah berdaya  upaya untuk selalu terlaksana dengan sebaik-baiknya. Karena dengan  terlaksananya <em>rokat<\/em>, saling membantu menjadi sebuah tradisi yang akan tetap ada hingga akhir zaman.<\/p>\n<div style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"><a href=\"http:\/\/www.lontarmadura.com\/rokat-sebagai-ungkapan-rasa-syukur-kepada-tuhan\/#ixzz5I6O85pkS\" style=\"color: #003399;\"><\/a><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersifat Kerja Sama dan Tolong Menolong<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><em>Rokat<\/em> adalah sebagai wadah  untuk saling menolong. Bekerja sama dan sama-sama bekerja adalah sebuah  kebiasaan yang harus tetap lestari. Tolong Menolong dan gotong royong  merupakan dasar dalam kearifan bangsa. Dari zaman nenek moyang kita,  gotong royong dan tolong menolong telah menjadi budaya dan tidak akan  menghilang begitu saja. Meski di zaman sekarang ini, kondisi masyarakat  telah terkikis menjadi individu yang nafsi-nafsi, setidaknya dengan  Budaya <em>rokat<\/em>, gorong royong masih ingin terus dieksiskan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kerja sama yang baik, di dalam segala  bidang akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Karena di dalam kerja  sama ada banyak pemikiran yang akan menjadi pilihan keputusan yang lebih  baik daripada keputusan sepihak atau sendiri-sendiri. Bahu membahu  untuk mencapai kesuksesan adalah kesuksesan itu sendiri, mencapai apa  yang kita inginkan. Meraih mimpi menjadi kenyataan (dream comes true).  Dan inilah yang kita maksud dan yang kita inginkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><strong>Hiburan Bagi Masyarakat<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Biasanya, ketika upacara pelaksanaan <em>rokat<\/em> diadakan, masyarakat di sekitar Kecamatan Masalembu berbondong-bondong  ikut serta mengikuti, maupun hanya jadi penonton dalam kegiatan  rekreatif ini. Jadi, di dalam upacara <em>rokat<\/em> juga terdapat hiburan bagi rakyat banyak sehingga acara adat ini menjadi ajang rekreasi. Bahkan Upacara Adat <em>rokat<\/em> di Masalembu sempat disaksikan oleh wisatawan manca negera. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan upacara <em>rokat<\/em> telah menyebar ke berbagai belahan dunia. Hilangnya upacara adat ini akan menjadi nilai buruk untuk sebuah kelestarian budaya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pelaksanaan upacara <em>rokat<\/em> tahun  terakhir, dibiayai oleh desa yang ada di Masalembu. Sehingga semarak  pelaksanaannya semakin meriah. Ada 4 desa yang ada di Masalembu, yaitu  Desa Masalima, Sukajeruk, Masakambing, dan Keramian. Keempat desa  tersebut turut serta dalam pelaksanaan <em>rokat<\/em> sehingga suasana semakin semarak dan menghibur.<\/div>\n<p>***<\/p>\n<div style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\">@<strong><em>Rusdi Umar<\/em><\/strong><\/div>\n<div style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"><strong><em>&nbsp;<\/em><\/strong><\/div>\n<div style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"><strong><em>&nbsp;<\/em><\/strong><\/div>\n<div style=\"background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;\"><strong><em><\/em><\/strong> <br \/><strong><em><\/em><\/strong>              <span style=\"line-height: 1.5;\">PERKATAAN ruwat (Jawa) atau arokat  (Madura) berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuno yaitu rwad yang  kemudian berubah bentuk menjadi rod atau root (Inggris) yang berarti  akar (urat, oyot, atau ora\u2019 dalam bahasa Madura). Dari kata rwad itulah  dalam bahasa Jawa baru menjadi ruwat (luwar). Diruwat berarti dibebaskan  dari dosa karena termakan sumpah atau janji. Ngluwari ujar berarti  melaksanakan janji, nazar, sumpah, atau melaksanakan wasiat si mayat,  sehingga yang ngluwari ujar itu terlepas dari rasa berdosa.<\/span><br \/> Perkataan root yang berarti akar itu kemudian disingkat dengan huruf  kapital R dan menjadi lambang panjang separuh dari garis tengah suatu  lingkaran. Dengan demikian muncullah rumus luas lingkaran yaitu 2 PI x R<sup>2<\/sup>.  Adapun PI adalah panjang busur lingkaran dibagi panjang garis tengah  (=3,14159), seberapa pun besarnya lingkaran. Angka itu tetap saja  menjadi keliling lingkaran yaitu PI x 2 R (R adalah jari-jari  lingkaran).<br \/> Budaya ruwat atau arokat adalah upacara selamatan bagi anak-anak yang dilahirkan dalam susunan keluarga yaitu: <\/p>\n<ol>\n<li>Anak tunggal<\/li>\n<li>Dua orang anak (laki-laki dan perempuan)<\/li>\n<li>Tiga orang (perempuan diapit lelaki atau lelaki diapit perempuan)<\/li>\n<li>Lima orang (laki-laki semuanya menyerupai Pandawa)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Di tanah Jawa masih banyak lagi yang harus diruwat, antara lain orang  yang periuknya roboh saat menanak nasi, orang yang me- nanam waluh  (labu) di muka rumah, anak yang selalu sakit-sakitan, anak yang sangat  nakal, dan sebagainya.<br \/> Upacara ruwat diadakan supaya si anak terlepas dari bahaya. Menurut  kepercayaan Jawa, bahaya itu berupa sergapan Batara Kala yang oleh para  dewa sudah ditentukan mangsanya. Upacara itu di Jawa dilakukan dengan  pertunjukan wayang purwa, sedangkan upacaranya lazim disebut  \u201cHamurwakala\u201d, artinya mengembalikan anak pada asal mulanya, bukan  dibunuh melainkan diserahkan kepa\u00adda Zat yang menciptakan kala (waktu).  Bukankah menurut keper\u00adcayaan Jawa, waktu dipandang sebagai kekuatan  Maha Agung yang menentukan kemalangan, musibah, dan bahagia bagi  manusia?<br \/> Sedangkan wayang purwa berarti wayang yang sangat awal. Ini adalah  gambaran kepercayaan asli masyarakat Jawa zaman dahulu ketika masih  memuja Waktu atau Kala.<br \/> Lakon cerita wayang pada upacara ruwat sebenarnya adalah lakon Batara  Kala. Siapakah Kala itu? Kala adalah putra Batara Surya (Dewa  Matahari). Bukankah matahari itu menjadi titik pangkal perhitungan hari  atau waktu (kala)? Itulah sebabnya Dewa Kala (Batara Kala) atau Waktu  dinamakan \u201cPutra Batara Surya\u201d. Artinya, \u201cwaktu\u201d atau \u201ckala\u201d dihasilkan  oleh lamanya planet-planet (bumi dan lain- lain) atau satelit (bulan)  menjelajahi angkasa mengitari matahari seba\u00adgai induknya. Itulah  sebabnya Batara Kala disebut juga Surya Atmaja (Putra Batara Surya).<br \/> Masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal perhitungan \u201chari yang tujuh\u201d, yaitu nama-nama hari: Dite, Soma, Nggara, Buda,<br \/> Respati, Sukra, dan Tumpak (Sabtu). Nama-nama itu diambil dari  nama-nama planet yang berjumlah tujuh (pada waktu itu). Sekarang telah  ditemukan dua planet lagi men)adi sembilan. Menilik hal itu, dahulu  masyarakat Jawa menggunakan tahun syamsiah (lamanya bumi mengitari  matahari dalam setahun). Kemudian dengan kedatangan Islam, maka  diperkenalkanlah tahun qomariah (lamanya bulan mengi\u00adtari bumi dalam  setahun). Gabungan antara tahun Saka (lama) dan tahun Qomariah (Islam)  itulah yang membentuk perhitungan bulan Jawa sekarang.<br \/> Upacara ruwat (arokat) dimaksudkan untuk menyerahkan kembali nasib  anak yang diruwat kepada Zat Asal yang menciptakan kehidupan ini, supaya  si anak terlepas dari bencana siksa-Nya. Ini sama dengan tobat nasuha  dalam ajaran Islam, suatu tobat yang tak akan mengulangi kesalahan lama  dan menutupi kesalahan-kesalahan serta dosa dengan kebaikan. Secara  simbolis orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri, bagaimana anak  itu kedka berada dalam kan- dungan sang ibu dan apa yang dilakukan orang  tua selama anak berada dalam kandungan. Ruwat pada hakikatnya adalah  belajar introspeksi dan retrospeksi<br \/> Upacara ruwat di Bondowoso diwujudkan dalam modifikasi budaya Jawa  dengan wayang purwa. Bukan dengan mengadakan pertunjukan wayang  sebenarnya melainkan dengan fragmen \u201cadegan wayang orang\u201d (wayang  topeng) dengan lakon Batara Kala. Ini dilaku\u00adkan karena ontowacana  dengan bahasa Jawa, apalagi Jawa Kawi tak mungkin dapat dilakukan.<br \/> Dalam pertunjukan wayang topeng itulah dalang berperan menghidupkan  cerita. Dalang mampu mengalihkan jalan cerita ke bahasa Madura. Di  sana-sini ada selingan humor supaya pertunjuk\u00adan menjadi menarik.  Dialog-dialog yang diucapkan dalang, diperan- kan oleh pelaku wayang,  hampir-hampir menyerupai pantomim dengan mengikuti suara dalang.<br \/> Sebelum pertunjukan dimulai, dalang membacakan mantra atau doa  memohon keselamatan. Mantra dibacakan di atas kepulan asap dupa  (kemenyan) di tengah malam. Sedangkan anak yang di-rokat dimandikan  dengan air bunga. Maksudnya agar segar, bersih, dan beraroma harum. Ini  adalah simbol budaya membersihkan anak dari segala ancaman dan sergapan  Batara Kala.<br \/> Pertunjukan itu dilakukan sampai larut malam seperti halnya wayang  purwa. Tidak lupa sahibul hajat menyediakan \u201csesaji\u201d makanan kenduri  nasi serta lauk pauk berupa panggang ayam putih mulus yang  dipersembahkan kepada leluhur yang telah wafat. Lalu dibacakanlah doa,  nasi kenduri pun mulai dimakan. Setelah usai, dalang beserta para pelaku  wayang menerima imbalan uang jasa dan transportasi (bagi dalang dan  niyaga-nya). Ada kalanya mereka diberi seperangkat alat dapur.<br \/> Di Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, ada sebuah buku doa  Pangrukat yang berasal dari Kiai Abdul Latief, saudara dari Kiai Syamsul  Arifin (alm.). Doa itu dibacakan pada upacara selamatan pekarangan,  tegalan, tanaman, kendaraan, perahu atau motor.<br \/> Di samping itu ada doa rokat dengan menyembelih kambing hitam.  Gunanya untuk menolak serangan wabah penyakit. Kambing disembelih di  tengah desa atau di tengah pekarangan. Yang menyem\u00adbelih harus menghadap  ke kiblat, setelah kambing disembelih maka dagingnya dibagikan kepada  masyarakat. Kikil (kekot) dan tulang- tulangnya tidak dimakan namun  ditanam di tempat penyembelihan kambing tersebut (Kitab ]aami\u2019ud  da\u2019awaat).<br \/> Dari budaya ruwat ini tersimpan filosofi bahwa:<br \/> a. Masalah takdir harus diyakini adanya. Manusia tidak perlu lari  pada hal-hal yang musyrik, menyembah waktu seperti pada zaman dahulu:  matahari dan bulan disembah. Nabi Ibrahim telah menolak keyakinan bahwa  Tuhan itu berupa matahari atau bulan (QS 16: 74-83). <\/p>\n<ol>\n<li>Letak susunan anak dalam keluarga memang secara psikologis ada  pengaruhnya. Anak tunggal biasanya dimanjakan. Begitu pula anak bungsu  atau anak tunggal yang diapit dua-tiga anak yang berlainan jenis  kelaminnya. Anak-anak yang lelaki semua akan sulit dibina. Biasanya  mereka saling berebut kekuasaan. Begitu juga jika semua anak adalah  perempuan. Pada umumnya anak kedua suka meninggalkan rumah karena  tekanan anak sulung. Kalau orang tua tidak adil dan pilih kasih dalam  memberikan layanan pendidikan, maka bencana perkelahian, pertentangan,  atau tekanan batin akan muncul. Hal itu akan menyulitkan orang tua untuk  mengantarkan anak menuju masa kedewasaannya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan menghargai waktu untuk mengisi kehidupan maka kebahagiaan  hidup akan tercapai. Islam sangat menghargai waktu. Disiplin salat  mengarah pada disiplin pribadi dan berguna bagi pembentukan watak  pribadi kelak. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu\u2019ah: Apabila telah  usai salat Jumu\u2019ah, bertebaranlah kau di muka bumi mencari rejeki  karunia lllahi (QS 62: 10).<br \/><a href=\"http:\/\/www.lontarmadura.com\/rokat-sebagai-ungkapan-rasa-syukur-kepada-tuhan\/2\/#ixzz5I6OEGGPU\" style=\"color: #003399;\"><\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MADURA, Jawara Post Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, maka rokat dijadikan momentum untuk jalan tarekat. Yaitu, sebuah formulasi kegiatan yang di dalamnya sayarat dengan muatan adat. Budaya ini sudah dilakukan secara turun temurun, dari generasi ke generasi meski dalam pelaksanaannya tetap mengikuti perkembangan zaman. Namun, hakikat dari rokat itu sendiri masih tetap nampak jelas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}