{"id":60,"date":"2018-06-11T08:03:00","date_gmt":"2018-06-11T08:03:00","guid":{"rendered":"http:\/\/www.jawarapost.com\/sejarah-pondok-pesantren-salafiiyah-syafiiyah-kabupaten-situbondo\/"},"modified":"2018-06-11T08:03:00","modified_gmt":"2018-06-11T08:03:00","slug":"sejarah-pondok-pesantren-salafiiyah-syafiiyah-kabupaten-situbondo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/sejarah-pondok-pesantren-salafiiyah-syafiiyah-kabupaten-situbondo\/","title":{"rendered":"Sejarah Pondok Pesantren Salafiiyah Syafi\u2019iyah, Kabupaten Situbondo"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/-HsC5_s7ZXUM\/Wx4svcxgBuI\/AAAAAAAAANQ\/May0sf9FAMUgFJqYp50wByCT-yeeAgctgCLcBGAs\/s1600\/masjid.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" border=\"0\" data-original-height=\"471\" data-original-width=\"786\" height=\"382\" src=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/-HsC5_s7ZXUM\/Wx4svcxgBuI\/AAAAAAAAANQ\/May0sf9FAMUgFJqYp50wByCT-yeeAgctgCLcBGAs\/s640\/masjid.png\" width=\"640\" \/><\/a><\/div>\n<p><b>Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Salafiiyah Syafi\u2019iyah<\/b><br \/>Tahun 1908 Masehi, Pondok pesantren Salafiiyah Syafi\u2019iyah telah mulai  dirintis oleh pendiriannya, yakni KHR Syamsul Arifin yang juga dikenal  dengan nama KHR Ibrahim bin Kyai Ruham Pondok Pesantren Salafiyah  Syafi\u2019iyah tergolong pesantren besar yang telah berusia cukup tua.<br \/>Tahun 1841, KHR Ibrahim bin Kyai Ruham lahir di desa Kembang Kuning,  Pamekasan, Madura. Setelah menginjak masa remaja, oleh orang tuanya  (Kyai Ruham), ia dikirim ke Mekkah untuk menuntut ilmu. Di tanah suci  inilah beliau bermukim dan hidup berkeluarga selama lebih kurang 40  tahun.<br \/>Tahun 1897, &nbsp;lahir putra pertamanya yang kemudian diberi nama As\u2019ad.  Ketika As\u2019ad berusia 6 tahun, KHR Syamsul Arifin bersama keluarganya  pulang kembali ke tanah air. Sekembalinya di tanah air, KHR Syamsul  Arifin membantu orang tuanya (Kyai Ruham) mengasuh para santri di Pondok  Pesantren Kembang Kuning. Sementara membantu ayahnya membimbing para  santri di Pesantren Kembang Kuning, keinginan untuk menyebarluaskan ilmu  agama Islam di tempat lain semakin kuat.<br \/>Dalam pada itu putra sulungnya, As\u2019ad telah menampakkan sifat  kemandirian dan keuletannya. Pada waktu itu ia baru meng\u00adinjak usia 11  tahun. Ia telah mulai belajar mencari nafkah untuk membiayai dirinya  dalam mencari ilmu, dengan cara berdagang barang-barang seperti tikar,  rampan dan semacamnya, yang dibawanya dari Madura kemudian dijual di  daerah Situbondo.<br \/>Pada suatu hari, ketika ia tengah berdagang di daerah Asembagus, ia  bertemu dengan sahabat ayahnya, Hasan Musawwa. Ketika Hasan Musawwa  mengetahui bahwa As\u2019ad adalah anak sahabatnya, maka ia menyuruh As\u2019ad  untuk menjemput ayahnya ke Asembagus. Di Asembagus, mereka berkumpul di  rumah Rama Abdul Halim. Yang hadir dalam pertemuan itu ialah KHR Ibrahim  (Syamsul Arifin), Habib Hasan Musawwa, dan Kyai Asadullah dari  Semarang.<\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gpEndIoY0ZI\/Wx4s7VPdWgI\/AAAAAAAAANU\/5LU3JbTLenQWjrTtCcgwAAtamhfWz2ZwQCLcBGAs\/s1600\/pengasuh5.png\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"><img border=\"0\" data-original-height=\"191\" data-original-width=\"191\" src=\"https:\/\/3.bp.blogspot.com\/-gpEndIoY0ZI\/Wx4s7VPdWgI\/AAAAAAAAANU\/5LU3JbTLenQWjrTtCcgwAAtamhfWz2ZwQCLcBGAs\/s1600\/pengasuh5.png\" \/><\/a><\/div>\n<p>Dengan diantar oleh Habib Hasan Musawwa dan Kyai Assadulah, Kyai  Syamsul Arifin bersama putra sulungnya As\u2019ad menuju ke suatu tempat  sunyi di tengah hutan belukar, sekitar 7 km di sebelah fimur Asembagus,  Situbondo. Hutan itu kemudian dirambah dan dibuka. Beberapa waktu  kemudian di tempat itu didirikan sebuah dangau (gubuk) untuk tempat  tinggal sementara KHR Syamsul Arifin dan sejumlah santri Kembang Kuning  yang menyertai pengembarannnya. Atas bantuan para santri itu pula,  pembabatan hutan semakin meluas. Mereka bekerja keras menjadikan hutan  sunyi itu menjadi ladang pertanian dan sebuah perkampungan pesantren  yang diidamkan.<br \/>Tahun 1914, mulai lengkaplah prasarana yang dibutuhkan untuk  mendukung berdirinya sebuah pesarrtren. Walaupun dalam bentuknya yang  masih sangat sederhana, beberapa gubuk dalam langgar telah didirikan.  Ladang pertanian yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan hidup  berangsur-angsur mulai mendatangkan hasil. Sementara hubungan pergaulan  dengan penduduk di kampung-kampung terdekat juga makin meluas. Maka pada  tahun itu pula kegiatan pesantren mulai berjalan.<br \/>Pada mulanya yang datang sebagai santri hanyalah anak-anak dari  keluarga penduduk desa terdekat di sekitar hutan. Lambat laun mulai  berdatangan santri-santri dari sekitar Situbondo dan Madura. Pesantren  ini kemudian diberi nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah.<br \/>Meski dengan keadaan yang masih sangat sederhana. para santri pemula  itu ternyata telah menjadi modal dasar yang amat berharga. Berkat ridla  Allah dan kesungguhan pengasuh dan para santrinya, pesantren itu makin  berkembang dan dikenal masyarakat secara meluas.<br \/>Guna pengembangan pesantren selanjuthya, KHR Syamsul Arifin  mengirimkan putra sulungnya, As\u2019as untuk menuntut ilmu ke beberapa  pesantren yang pada waktu itu sudah lebih terkenal, antara lain  Pesantren Demangan Bangkalan yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Moh.  Kholil, Pesantren Panji Pasuruan, dan Pesantren Tebuireng di Jombang  yang pada waktu itu di bawah asuhan KH Hasyim Asy\u2019ari. Selain itu, As\u2019ad  juga dikirim- kan oleh ayahnya ke Mekkah untuk menuntut ilmu di sana.  Selama di Mekkah As\u2019ad berguru antara lain kepada Ustads Habib Abbas  Al-Maliki, Sayyid Muhammad Amin Al-Qurhbi, dan sayyid Hassan Al-Yamani.<br \/>Tahun 1924, sepulang dari pengembaraannya me\u00adnuntut ilmu, As\u2019ad  Syamsul Arifin mulai tampil sebagai Kyai muda dan mulai ikut terlibat  mengurusi pesantren yang dipimpin oleh ayahnya.<br \/>Tahun 1928, di pesantren tersebut mulai dibuka Madrasah Ibtidaiyah dengan kelas terpisah antara murid putra dan putri.<br \/>Tahun 1943, menyusul didirikan Madrasah Tsanawiyah, dan berikutnya  Madrasah Aliyah. Di tengah kesibukan mengembangkan pondok pesantren, KHR  Syamsul Arifin dan putra sulungnya, As\u2019ad, tidak menutup mata terhadap  keadaan masyarakat dan bangsa yang pada waktu itu tengah berada di bawah  cengkeraman pemerintah penjajah. Mereka secara bahu membahu turut  berjuang mengangkat senjata guna mengusir penjajah dari tanah air. KHR  As.ad menggabung- kan diri dalam barisan kelasykaran  Hizbullah-Sabilillah bersama-sama dengan Kyai Zainul Arifin, Kyai Bisri  Fansuri, Kyai Badurs dan Kyai Bajuri. Demikian pula ayahnya, KHR Syamsul  Arifin.<br \/>Tahun 1947, juga sempat memimpin barisan perlawanan Sabilillah di  daerah Jembar. Pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah itu sendiri menjadi salah  satu basis peijuangan rakyat melawan pen\u00adjajah.<br \/>5 Maret 1951, KHR Syamsul Arifin, pendiri dan pengasuh pertama Pondok  Pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah, dipanggil pulang ke Rahmatullah,  meninggalkan dua orang putra, yaitu Raden As\u2019ad dan Raden Abdur Rahman  yangg sedang me\u00adnuntut ilmu di Mekkah. Sepeninggaal KHR Syamsul Arifin,  kepemimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah dibebankan kepada  Raden As\u2019ad yang kemudian bergelar KHR As\u2019ad Syamsul Arifin.<br \/>Tahun 1968, di bawah asuhan KHR As\u2019ad Syamsul Arifin, Pondok  Pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah mengalami perkembangan yang amat pesat.  Didirikan sebuah perguruan ttinggi Universitas Syafi\u2019iyah.<br \/>Tahun 1979, Kemudian menyusul dibuka Fakultas Tarbiyah dan Fakultas  Dakwah. Di bidang pendidikan umum, secara berturut-turut didirikan  sekolah menengah tingkat pertama (SMP I)<br \/>Tahun 1980, didirikan sekolah menengah tingkat atas SMA Islam.<br \/>Tahun 1986, didirikan sekolah menengah ekonomi tingkat atas SMEA Islam.<br \/>Tahun 1985, didirikan sekolah dasar SD Islam.<br \/>Tahun 1990, dibuka \u201cAl Ma\u2019hadul\u2019aliy Li\u2019ulumiddiniyah Syu\u2019batul  Fiqh\u201d, atau lebih dikenal dengan nama Ma\u2019had aliy, yang merupakan  lembaga kaderisasi Fuqoha\u2019. Dalam rangka mengantisipasi isu krisis ulama  (lebih-lebih Fuqoha\u2019).<br \/>4 Agustus 1990, setelah didirikannya Lembaga Kderisasi Qufoha\u2019, KHR  As\u2019ad Syamsul Arifin meninggal dunia dalam usia 98 tahun. beliau  meninggalkan empat orang pytri dan dua orang putra. Sepeninggal KHR  As\u2019ad Syamsul Arifin, kepemimpinan pesantren diemban oleh KHR Ach,  Fawaid yang pada waktu itu baru berusia 23 tahun, bergelar Khuwaidimul  Ma\u2019had. Pada tahun pertama kepemimpinan KHR Ach. Fawaid As\u2019ad, didirikan  Madrasatul Qur\u2019an guna mengembangkan minat mempelajari dan mendalami  ilmu Al-Qur\u2019an di kalangan masyarakat.<br \/>Demikianlah sejarah ringkas berdirinya Pondok Pesantren Salafiyah  Syafi\u2019iyah yang kepemimpinannya kini telah berada pada generasi ketiga.<\/p>\n<p><u>&nbsp;Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit \u2013 Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: &nbsp;Nilai-  Nilai Budaya Dalam Kehidupan Pesantren di Daerah Situbondo JawaTimur,  Departemen Pendidikana dan Kebudayaan 1994-1995,Jakarta 1994; hlm.18- 21<\/u>             <\/p>\n<div><u>       <\/u><\/p>\n<div><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Salafiiyah Syafi\u2019iyahTahun 1908 Masehi, Pondok pesantren Salafiiyah Syafi\u2019iyah telah mulai dirintis oleh pendiriannya, yakni KHR Syamsul Arifin yang juga dikenal dengan nama KHR Ibrahim bin Kyai Ruham Pondok Pesantren Salafiyah Syafi\u2019iyah tergolong pesantren besar yang telah berusia cukup tua.Tahun 1841, KHR Ibrahim bin Kyai Ruham lahir di desa Kembang Kuning, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jawarapost.com\/terkini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}