Maa shaa allah….
Mbah Hamid Pasuruan bongkar kewalian Kyai kajen pati yang tersembunyi…….
ALKISAH awal perkenalan Kiai Muhammadun Kajen dan Kiai Hamid Pasuruan tergolong unik dan cenderung mistis. Suatu ketika, Mbah Abdullah Zain Salam sowan ke Mbah Hamid Pasuruan. Setelah cukup lama dan dirasa sudah tercapai maksud dan hajat, Mbah Dullah kemudian minta pamit untuk pulang. Tiba-tiba Mbah Hamid titip salam kagem Kiai Sholeh Kajen. Ada sedikit kaget dan keheranan bagi Mbah Dullah lantaran di Kajen selama yang beliau tahu tidak ada orang yang bernama Kiai Sholeh.
Dengan memberanikan diri, Mbah Dullah kemudian bertanya biar tidak salah dan tidak ragu. Sepertinya di Kajen tidak ada kiai yang namanya Soleh;
“Wonten Kiai,” jawab Kiai Hamid.
Mbah Dullah tetap mencari tahu walaupun sebatas minta ciri-ciri KiaiSholeh. ”Piantunnya (Orangnya) punya ciri-ciri seperti apa?,” tanya Mbah Dullah.
Dengan haqqul yaqin, Kiai Hamid berkata;
“Bahwa Kiai Sholeh kalau setiap salat Jumat selalu di samping kanan mimbar.”
Mbah Dullah kemudian pulang dari Pasuruan membawa oleh-oleh tanda tanya besar siapa gerangan sosok yang dikatakan bahwa Kiai Hamid. Singkat cerita, setelah satu Jumat dua Jumat, Mbah Dullah mengamati dan memperhatikan dengan sesama di sisi kanan dari mimbar.
Sampai Jumat ketiga, ternyata yang istiqomah di tempat itu adalah Kiai Muhammadun yang juga masih familinya. Tanpa ragu Mbah Dullah sowan ke Kiai Muhammadun sebagai wujud amanat menyampaikan salam dari Mbah Hamid. Setelah saling ngobrol kesana-kemari barulah kemudian menyampaikan salam itu. Kiai Muhammadun dengan nada enteng dan menjawabnya bahwa beliau merasa tidak kenal dengan Kiai Hamid.
Akhirnya muncullah gagasan Mbah Dullah mengajak Kiai Muhammadun sowan ke Pasuruan. Sungguh aneh dan ajaib, sebelum Mbah Dullah dan Kiai Muhammaduun sampai di Pasuruan, Mbah Hamid sudah mempersiapkan penyambutan yang meriah dan istimewa dengan menggelar karpet merah dari teras rumah sampai gang masuk layaknya penyambutan tamu agung dan istimewa.
Santri-santri disuruh berkumpul dan membawa rebana sebagai prosesi penyambutan. Padahal saat itu belum ada teknologi handphone SMS atau telepon. Subhanallah. Siapa yang memberitahu Mbah Hamid. Ketika Kiai Muhammadun sudah memasuki Gang Kompleks Pesantren. Mbah Hamid sudah berdiri dengan muka ceria dan berseri-seri sambil tak henti-hentinya mendendangkan Thola’al Badru sampai menciumi Kiai Muhammadun saking gembira dan takzim.. Subhanallah….
Lalu siapakah beliau KH. MUHAMMADUN itu?
Kh. Muhammadun atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Madun adalah seorang Kiai yang terkenal dengan kealimannya dalam ilmu agama, zuhud dan sangat sederhana.
Muhammadun lahir di Desa Cebolek, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati pada tanggal 10 Januari 1910. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Ali Murtadlo dan Hj. Halimatus Sa’diyyah.
Secara genealogis, nasab Kyai Muhammadun sambung sampai Kiai Mutamakkin Kajen, baik dari jalur ayah maupun dari jalur ibu berikut adalah satu jalur yang berhasil dihimpun penulis, KH. Muhammadun bin Ali Murtadlo (alias Murtomo) bin Nyai Thohiroh (istri Kiai Nurwi Cebolek) binti KH. Raden Mohammad Sholeh bin Nyai Jiroh (istri Kiai Hasan Wira’i bin Kyai Abdur Rohman Waru Rembang) binti Nyai Alfiah (alias Nyai Godek) istri Kiai Sholeh (alias Kiai Gerong bin Kiai Ageng Selo Purwodadi) binti KH. Ahmad Mutamakkin Kajen.
Sejak kecil, Muhammadun sudah belajar hidup sederhana dan pas-pasan. Pasalnya, ayahnya sudah meninggalkannya sejak umur 10 tahun. Sehingga putra keempat dari tujuh saudara (KH. Abdul Bashir, KH. Abdul Adhim, KH. Muhdlori, KH. Muhammadun, Kyai Mahshun, KH. Halimi, dan putra terakhir wafat ketika masih kecil) ini hanya diasuh oleh ibunya. Kendati demikian, ibunya tak patah arang untuk tetap mendidik putra-putrinya ilmu agama dan berperilaku luhur. Selain itu, ibu yang terkenal dengan keshalihannya ini merupakan seorang ahli puasa, memberikan contoh kepada anak-anaknya untuk selalu tirakat dan berperilaku sederhana.
Muhammadun sudah nampak tekun belajar mengaji semenjak masih kecil, beliau mulai belajar Al-Qur’an kepada pamannya sendiri di sebuah surau kecil dekat rumah. Kemudian Muhammadun mondok di Pesantren Salafiyyah Kajen. Di Pesantren Salafiyyah ini beliau dibimbing langsung oleh KH. Siroj (ayah dari KH. Baidlowi Siroj), pengasuh pondok tersebut. Namun, disana Kyai Muhammadun tidak berdomisili lama. Pasalnya, beliau hijrah untuk mondok lagi di Pondok Polgarut yang kala itu diasuh oleh KH. Abdussalam (ayah dari KH. Abdullah Salam).
Selanjutnya Klik link : KH Muhammadun, Wali Yang Terkenal Zuhud














