ISABA Jum’at Legi, Merawat Niat di Halaman Pesantren Brani kulon Maron Probolinggo

PROBOLINGGO, Jawara Post – Halaman Pondok Pesantren Al-Kholiliyah Al-Mubarokah, Desa Brani Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, dipenuhi jamaah sejak awal siang, Jumat (13/2/2026).Sekira pukul 13.00 WIB, mereka duduk bersila dalam barisan rapi. Sebagian membawa kitab kecil, sebagian lainnya menundukkan pandangan dengan tangan terlipat di pangkuan.

Lantunan sholawat terdengar pelan namun serempak, menciptakan suasana teduh di tengah terik siang.
Rutinan ISABA (Ijroatus Sholawat Al-Kholiliyah Al-Mubarokah) Jum’at Legi kembali digelar, menjadi agenda yang tak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarana penguatan spiritual bagi jamaah.

Majelis tersebut diasuh oleh Gus Moh. Ali Mabrur S.HI.MPd, pengasuh ponpes sekaligus Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Kraksaan dan anggota Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Probolinggo.

Usai pembacaan sholawat, Gus Ali—sapaan akrabnya—menyampaikan tausiyah singkat. Dengan nada tenang, ia menegaskan bahwa sholawat bukan sekadar lantunan pujian, melainkan jalan merawat hati.

“Majelis ini adalah ruang memperbaiki niat dan membersihkan batin sebelum kembali menghadapi aktivitas sehari-hari. Ini bukan hanya melafalkan sholawat, tetapi proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa yang dilakukan terus-menerus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam pandangan ulama tasawuf, hati manusia bersifat berubah-ubah. Karena itu, menghadiri majelis dzikir dan sholawat menjadi salah satu ikhtiar menjaga kebersihan batin di tengah dinamika kehidupan.
Menurutnya, salah satu langkah awal dalam disiplin fikih dan tasawuf untuk menyiapkan hati adalah menjaga wudlu.

“Wudlu tidak hanya dimaknai sebagai syarat sah ibadah, tetapi juga sarana penyucian diri,” katanya.
Jamaah terlihat menyimak dengan khusyuk. Beberapa mengangguk perlahan, sebagian memejamkan mata. Suasana berlangsung tertib dan tenang.

Gus Ali menambahkan, tradisi menjaga wudlu dikenal dalam praktik para ulama sebagai bentuk kesiapsiagaan spiritual. Dalam kondisi suci, seseorang diyakini lebih siap menerima kebaikan dan limpahan rahmat Allah.

“Salah satu jalan untuk memudahkan kita menerima karunia Allah adalah menjaga wudlu, karena wudlu adalah pintu kesucian lahir yang mengantarkan pada kebersihan batin,” tuturnya.

Rutinan ISABA Jum’at Legi ini disebutnya sebagai upaya merawat tradisi sholawat sekaligus memperkuat ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah masyarakat. Jamaah yang hadir berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Probolinggo, duduk bersama tanpa sekat sosial.

Menjelang akhir kegiatan, sebagian jamaah tetap bertahan untuk melanjutkan dzikir dengan suara lirih.
Di halaman pesantren itu, Jum’at Legi menjadi lebih dari sekadar penanggalan Jawa. Ia adalah waktu untuk menata niat, menenangkan hati, dan kembali melangkah dengan kesadaran yang diperbarui. (Fik)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *