SPPG Besuk Kidul Tanggapi Keluhan MBG, Paket Makanan Diganti dan Evaluasi Diperketat

PROBOLINGGO, Jawara Post — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Besuk Kidul, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, merespons cepat keluhan wali murid terkait kualitas paket dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Respons itu diwujudkan dengan langkah langsung di lapangan serta penggantian paket makanan yang dikeluhkan.

Kepala SPPG Besuk Kidul, Alfin Abdullah Umar, memilih mendatangi langsung rumah wali murid yang melaporkan persoalan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus memastikan laporan segera ditangani.

Pada Rabu, 11 Maret 2026, Alfin menyambangi kediaman Nujum, wali murid di Desa Sindetanyar, Kecamatan Besuk. Kunjungan itu dilakukan untuk mengonfirmasi laporan terkait buah jeruk yang disebut tidak layak konsumsi dalam paket MBG yang diterima siswa.

Setibanya di rumah Nujum, Alfin memperkenalkan diri sekaligus menanyakan langsung kebenaran laporan tersebut.

Apakah benar kemarin yang menerima paket MBG dengan jeruk yang busuk itu?” ujar Alfin kepada wali murid tersebut.

Nujum membenarkan kejadian tersebut. Mendengar hal itu, Alfin menjelaskan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti laporan dengan mengganti paket makanan yang bermasalah.

Saya Alfin Abdullah Umar, Kepala SPPG Besuk Kidul. Terkait kejadian kemarin sudah kami tindak lanjuti dengan mengganti satu paket yang baru,” katanya.

Langkah cepat itu mendapat apresiasi dari Nujum. Ia mengaku berterima kasih karena keluhan yang disampaikan langsung mendapat perhatian.

Oh iya, Mas. Terima kasih,” ucapnya singkat.

Bagi Alfin, setiap laporan masyarakat bukan sekadar kritik, melainkan cermin untuk memperbaiki layanan.

Ia menegaskan pengawasan terhadap bahan makanan akan diperketat sebelum paket didistribusikan kepada siswa.

Ke depan kami akan lebih berhati-hati dalam proses pengendalian kualitas. Jika ada temuan lagi, kami akan langsung menggantinya dengan yang lebih baik,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara penyelenggara program, pihak sekolah, dan wali murid. Menurutnya, keterbukaan menjadi kunci agar program pemenuhan gizi bagi siswa berjalan optimal dan tetap mendapat kepercayaan publik.

Masukan dari masyarakat sangat penting bagi kami agar setiap persoalan bisa segera ditangani dan program MBG benar-benar memberi manfaat bagi siswa,” ujarnya.

Sebelumnya, keluhan mengenai paket MBG mencuat setelah Nujum melaporkan adanya buah jeruk yang tidak layak konsumsi dalam paket makanan yang diterima anaknya, NRA, siswa kelas VI SDN Sumurdalam, pada Kamis, 5 Maret 2026.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap paket makanan yang dibagikan kepada siswa, terdapat harapan agar generasi muda tumbuh sehat dan kuat. Karena bagi anak-anak, seporsi makanan bukan sekadar santapan siang, melainkan bagian dari upaya bersama menjaga masa depan mereka. (Fik)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *