PROBOLINGGO, Jawara Post – Di balik setiap seragam polisi, tersimpan kisah panjang tentang pengabdian, perjuangan, dan pilihan hidup yang tidak selalu mudah. Di tengah berbagai tantangan penegakan hukum yang terus berkembang, masih ada sosok-sosok yang menjalankan tugas dengan ketulusan, keberanian, dan komitmen terhadap keadilan.
Salah satunya adalah IPTU Djuwantoro Setyo Wadi. SH.
Pria kelahiran Surabaya, 31 Mei 1971, yang akrab disapa DJ Setyo ini telah mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk Kepolisian Republik Indonesia. Sejak pertama kali mengenakan seragam Bhayangkara pada tahun 1992, ia menapaki perjalanan panjang dari jenjang paling bawah hingga kini dipercaya menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
Bagi DJ Setyo, profesi polisi bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah jalan pengabdian yang menuntut kesetiaan pada sumpah jabatan, keberanian menghadapi risiko, serta keikhlasan melayani masyarakat.
Kariernya di dunia reserse dimulai saat masih berpangkat Bripda. Dari sanalah ia belajar membaca jejak-jejak kejahatan, menyusun potongan informasi menjadi fakta, dan memahami bahwa di balik setiap perkara selalu ada harapan masyarakat yang menunggu keadilan.
Pengalaman panjang di lapangan membentuknya menjadi penyidik yang matang. Ia pernah menghabiskan sekitar 13 tahun bertugas di satuan narkoba, berhadapan langsung dengan jaringan peredaran barang haram yang merusak masa depan generasi bangsa.
Namun dari sekian banyak kasus yang pernah ditanganinya, pengungkapan tiga perkara pembunuhan menjadi catatan yang paling membekas dalam ingatannya.
Dua kasus berhasil diungkap saat ia bertugas di wilayah Kecamatan Sumber, sementara satu kasus lainnya dituntaskan ketika bertugas di Kecamatan Kraksaan.
Menariknya, ketiga kasus tersebut berhasil diungkap dalam waktu kurang dari 1×24 jam.
Sebuah capaian yang tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan hasil dari ketajaman analisis, kecepatan bertindak, kerja sama tim yang solid, serta keberanian mengambil keputusan di tengah tekanan waktu.
Namun keberhasilan dalam dunia reserse tidak pernah datang tanpa risiko.
DJ Setyo mengakui, tantangan terbesar sering kali muncul ketika harus berhadapan langsung dengan pelaku kejahatan yang berusaha melarikan diri atau melakukan perlawanan.
“Perlawanan, kejar-kejaran dengan pelaku, di lapangan itu sudah biasa. Risikonya ya luka-luka, jatuh dan lain sebagainya,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan kenyataan bahwa tugas seorang penyidik tidak hanya berlangsung di ruang pemeriksaan atau di balik tumpukan berkas perkara. Ada malam-malam panjang yang dihabiskan untuk penyelidikan, ada medan yang harus dilalui dengan segala risiko, dan ada keselamatan diri yang terkadang dipertaruhkan demi menegakkan hukum.
Meski telah menangani berbagai kasus besar, DJ Setyo memandang keberhasilan polisi tidak hanya diukur dari banyaknya perkara yang berhasil diungkap.
Baginya, keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat masih menaruh kepercayaan kepada institusi kepolisian.
Kepercayaan itu, menurutnya, hanya dapat dibangun melalui pelayanan yang profesional, jujur, dan berpihak pada kebenaran.
“Kita harus menangani laporan masyarakat secara bijak dan profesional. Tentunya dengan ikhlas, mengutamakan kebenaran, kejujuran, keberanian, dan jangan lupa tawakal dengan menyandarkan diri kepada Allah. Karena hidup dan mati kita adalah milik Allah,” tuturnya.
Prinsip-prinsip itulah yang terus menjadi pegangan selama lebih dari tiga puluh tahun pengabdiannya.
Di tengah perkembangan teknologi dan semakin beragamnya modus kejahatan, ia juga berpesan kepada generasi muda anggota Polri agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan zaman.
“Rekan-rekan anggota jangan mudah menyerah dengan situasi yang semakin kompleks akibat ulah pelaku kejahatan. Dan tetap jaga keselamatan,” pesannya.
Bagi para pemuda yang bercita-cita menjadi anggota Polri, perjalanan hidup DJ Setyo menjadi gambaran bahwa menjadi polisi bukanlah tentang pangkat atau jabatan semata.
Profesi ini adalah panggilan untuk hadir di tengah masyarakat, memberikan rasa aman, melayani tanpa pamrih, dan memperjuangkan keadilan bagi mereka yang membutuhkan.
Lebih dari tiga dekade telah ia lalui. Berbagai kasus kriminal, pemberantasan narkotika, hingga pengungkapan perkara pembunuhan telah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Namun pada akhirnya, seluruh pengalaman itu bermuara pada satu makna sederhana yang terus ia pegang teguh hingga hari ini.
“Pengabdian adalah apa yang kita lakukan semata-mata untuk masyarakat demi mendapatkan keadilan.”
Sebuah kalimat singkat yang merangkum perjalanan panjang seorang Bhayangkara. Sebab bagi IPTU Djuwantoro Setyo Wadi, seragam yang dikenakan bukan sekadar identitas, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan keberanian, kejujuran, dan ketulusan untuk masyarakat. (Fik)














