Jembatan Curah Bubur Dibongkar, Warga Paras Kelimpungan: Akses Alternatif Dinilai Membahayakan

TEGALSIWALAN, PROBOLINGGO Jawara Post — Pembangunan dan perbaikan infrastruktur semestinya menghadirkan kemudahan bagi masyarakat. Namun, pembongkaran Jembatan Curah Bubur di Desa Paras, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, justru membuat aktivitas warga untuk sementara waktu tersendat.

Jembatan yang selama ini menjadi salah satu akses penting masyarakat tersebut ditutup setelah dilakukan pembongkaran untuk keperluan perbaikan. Persoalannya, penutupan akses dinilai belum diikuti dengan tersedianya jalur alternatif yang aman dan layak bagi masyarakat.

Kondisi itu membuat warga harus mencari jalan lain agar tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari.

Padahal, jembatan tersebut selama ini menjadi akses yang cukup vital, terutama bagi anak-anak sekolah mulai dari TK, SD, SMP hingga SLTA, para pekerja pabrik, pedagang, serta masyarakat yang memiliki berbagai kepentingan lainnya.

“Semestinya sebelum jembatan dibongkar atau ditutup, jalan alternatif sudah disiapkan terlebih dahulu. Jangan langsung ditutup begitu saja, karena dampaknya sangat terasa bagi masyarakat,” ujar Abdullah, seorang warga sekitar kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).

Menurut Abdullah, penutupan Jembatan Curah Bubur tidak hanya berdampak pada kelancaran lalu lintas masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas pendidikan, pekerjaan hingga perekonomian warga yang selama ini bergantung pada akses tersebut.

Kondisi tersebut akhirnya mendorong masyarakat untuk mencari solusi secara mandiri. Warga membuat jalan alternatif agar tetap dapat melintas selama jembatan dalam proses perbaikan.

Namun, keberadaan jalur alternatif itu justru memunculkan kekhawatiran tersendiri. Medannya disebut cukup curam sehingga dinilai kurang aman, terutama bagi anak-anak sekolah dan pengguna jalan lainnya.

Kekhawatiran tersebut semakin besar mengingat jalur itu digunakan oleh masyarakat dengan berbagai usia dan kepentingan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi jalan alternatif dikhawatirkan dapat menimbulkan risiko kecelakaan.

“Kalau orang dewasa mungkin masih bisa menyesuaikan. Tapi anak-anak sekolah juga lewat di sana. Belum lagi pekerja dan masyarakat yang setiap hari membutuhkan akses ini,” ungkap Abdullah.

Dampak penutupan juga dirasakan dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Akses yang sebelumnya dapat dilalui dengan mudah kini harus ditempuh melalui jalur lain. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat perjalanan warga menjadi lebih sulit dan berpotensi menghambat aktivitas ekonomi sehari-hari.

Meski demikian, masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak menolak adanya perbaikan jembatan. Warga memahami bahwa pembongkaran dilakukan sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur agar jembatan nantinya menjadi lebih baik dan aman digunakan.

Yang menjadi perhatian warga adalah bagaimana akses masyarakat tetap terjamin selama proses pekerjaan berlangsung.

Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengevaluasi kondisi jalur alternatif yang saat ini digunakan warga. Jika diperlukan, akses tersebut diharapkan dapat diperbaiki atau disiapkan jalur pengganti yang lebih aman dan layak.

“Pada prinsipnya kami mendukung jembatan diperbaiki. Kami hanya berharap akses masyarakat jangan sampai terputus. Kalau memang harus ditutup, tolong siapkan jalan alternatif yang aman,” harapnya.

Bagi masyarakat, keberadaan jembatan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Di balik akses tersebut terdapat aktivitas pendidikan, pekerjaan dan perekonomian yang berlangsung setiap hari.

Anak-anak membutuhkan jalan untuk menuju sekolah, para pekerja membutuhkan akses menuju tempat kerja, sementara pedagang dan masyarakat lainnya membutuhkan kelancaran mobilitas untuk menghidupkan roda perekonomian.

Karena itu, warga berharap proses pembangunan Jembatan Curah Bubur dapat berjalan lancar dan segera diselesaikan, tanpa mengabaikan keselamatan serta kebutuhan masyarakat selama pekerjaan berlangsung.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Desa Paras maupun instansi terkait mengenai teknis pembongkaran Jembatan Curah Bubur, durasi pekerjaan, serta langkah yang disiapkan untuk menyediakan akses alternatif yang aman bagi masyarakat.

Konfirmasi dari pihak terkait tentu diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai proses perbaikan, termasuk rencana pengamanan dan penanganan akses sementara selama jembatan belum dapat digunakan.

Masyarakat kini berharap perhatian dan langkah cepat dari pihak terkait agar tersedia akses alternatif yang aman dan layak, sehingga aktivitas pendidikan, pekerjaan maupun perekonomian warga tetap dapat berjalan selama proses perbaikan Jembatan Curah Bubur berlangsung. (Fik)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *