PROBOLINGGO Jawara Post — Sehari-hari mereka berada di ruang pelayanan, berhadapan dengan pasien dan menjalankan tugas kemanusiaan. Namun malam itu, para tenaga kesehatan tersebut meninggalkan sejenak rutinitasnya untuk memasuki dunia yang berbeda: panggung budaya.
Dari ruang-ruang rumah sakit menuju panggung Probolinggo SAE Carnival 2026, tim gabungan RSUD Tongas, RSUD Wonolangan, dan RSUD Graha Sehat menyatukan langkah untuk menghidupkan kembali legenda Dewi Rengganis.
Bukan sekadar pertunjukan, drama kolosal yang dipadukan dengan tarian itu menjadi upaya mengenalkan kembali salah satu cerita budaya lokal Kabupaten Probolinggo kepada masyarakat.
Kerja keras dan kekompakan mereka pun berbuah prestasi. Tim gabungan tiga rumah sakit tersebut berhasil meraih juara dua Probolinggo SAE Carnival 2026.
Penampilan itu berlangsung dalam resepsi penutupan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Senin malam (31/8/2026).
Piala dan sertifikat penghargaan diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Probolinggo, Lora Fahmi, kepada Direktur UOBK RSUD Tongas Kabupaten Probolinggo, dr. Catur Prangga Wadana, Sp.A., M.Kes., sebagai perwakilan tim.
Tiga Rumah Sakit, Satu Cerita
Legenda Dewi Rengganis menjadi benang merah pertunjukan. Cerita dikemas dalam drama kolosal dan tarian sehingga kisah masa lalu terasa lebih dekat dengan penonton.
Kolaborasi tiga rumah sakit itu juga memperlihatkan bahwa budaya dapat menjadi ruang perjumpaan bagi siapa saja, termasuk mereka yang setiap hari mengabdikan diri dalam pelayanan kesehatan.
Dr. Catur mengatakan kekompakan menjadi salah satu kekuatan utama dalam proses menyiapkan pertunjukan tersebut.
“Tiga rumah sakit ini sangat luar biasa, bisa bekerja sama dengan kompak, dan akhirnya kita bisa membawa konsep bahwasanya budaya lokal Dewi Rengganis itu sangat-sangat melekat di masyarakat Kabupaten Probolinggo,” katanya.
Di atas panggung, dr. Catur memerankan Raja Brawijaya, sementara Ning Ayu Nofita Rahmawati, S.E., tampil sebagai permaisuri.
Keduanya menjadi bagian pembuka alur cerita sebelum Dewi Rengganis dikisahkan menuju kawasan Argopuro.
“Jadi ibaratnya kami kan sebagai orang tua dari Dewi Rengganis itu, sebelum Dewi Rengganis pergi ke Argopuro. Jadi kami membuka cerita ini dengan tarian,” ujar dr. Catur seusai penampilan.
Tenaga Kesehatan yang Menjadi Pelaku Seni
Ada cerita menarik di balik gemerlap panggung tersebut.
Para pemain sebagian besar merupakan tenaga kesehatan yang tetap harus menjalankan tugas pelayanan di rumah sakit. Di tengah kesibukan itu, mereka menyisihkan waktu untuk berlatih.
Latihan dilakukan setelah pelayanan selesai dan ketika para anggota tim memiliki waktu luang bersama.
“Kalau kita punya waktu kosong bersama, sudah selesai pelayanan di rumah sakit—karena teman-teman ini di layanan medis—kita adakan latihan,” kata Ning Ayu.
Persiapan dilakukan sekitar lima kali latihan sebelum mereka tampil dalam Probolinggo SAE Carnival 2026.
Waktu yang terbatas tidak mengurangi semangat. Dialog, gerakan, tarian dan alur cerita terus disatukan hingga menjadi sebuah pertunjukan yang mampu memikat penonton.
Hasil akhirnya bukan hanya penampilan yang menghibur, tetapi juga sebuah prestasi: juara dua Probolinggo SAE Carnival 2026.
Menghidupkan Cerita agar Tak Hilang
Bagi Ning Ayu, ada pesan yang jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan perlombaan.
Ia berharap panggung budaya seperti Probolinggo SAE Carnival dapat menjadi media untuk menjaga cerita rakyat agar tetap dikenal generasi muda.
Menurutnya, legenda Dewi Rengganis maupun kisah Roro Anteng dan Joko Seger akan lebih mudah dipahami ketika tidak hanya diceritakan melalui kata-kata, tetapi juga divisualisasikan melalui drama dan tarian.
“Kalau sudah melihat drama kolosalnya seperti ini, masyarakat bisa membayangkan dan seolah-olah mereka masuk ke zaman itu,” ujar Ning Ayu.
Baginya, cara tersebut membuat cerita rakyat menjadi lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.
Ia pun mengajak semua pihak untuk ikut menjaga tradisi dan legenda lokal Kabupaten Probolinggo.
“Harapannya ke depan adalah mari kita sama-sama terus merawat, kemudian menularkan tradisi ini terus ke anak cucu kita supaya apa yang menjadi cerita ataupun legenda masyarakat kita tidak hilang begitu saja ditelan oleh zaman,” tuturnya.
Ketika Pengabdian Bertemu Kebudayaan
Apa yang dilakukan tiga rumah sakit tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya hadir melalui ruang pelayanan.
Ia juga dapat tumbuh melalui seni, budaya dan kepedulian terhadap warisan daerah.
Para tenaga kesehatan yang sehari-hari memberikan pelayanan kepada masyarakat, malam itu mengambil peran berbeda. Mereka menjadi penari, pemain drama, sekaligus penjaga cerita.
Dari ruang pelayanan menuju panggung budaya, mereka membawa satu pesan yang sama: bahwa budaya akan tetap hidup jika ada yang mau merawat dan mewariskannya.
Raihan juara dua menjadi buah dari kekompakan tersebut.
Namun lebih dari sekadar piala, penampilan itu telah mengembalikan legenda Dewi Rengganis ke hadapan masyarakat—agar cerita yang lahir dari masa lalu tidak berhenti menjadi kenangan, tetapi terus hidup dalam ingatan generasi hari ini dan masa depan.
Sebab, sebuah legenda tidak benar-benar hilang selama masih ada yang bersedia menceritakannya kembali. (Fik)
















