BANYAK para alim ulama yang menorehkan segenap kewibawaan dan performa yang terukir indah dalam perjalanan bumi Nusantara. Beliau adalah pelaku sejarah yang menuntun generasi berikutnya, agar faham etika budaya dalam peradaban yang semakin berkembang. Diantaranya, Mama Gentur (Syekh Ahmad Syathibi).
Siapa Mama Gentur?
Mama Gentur atau nama lengkapnya Al-Alim Al-Allamah Syekh Ahmad Syathibi al-Qonturi adalah seorang ulama besar karismatik dari Cianjur, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai “Maha Guru” bagi para ulama di Tatar Sunda karena banyaknya murid beliau yang kemudian menjadi kiai besar dan mendirikan pesantren-pesantren berpengaruh di Jawa Barat dan Banten.
Kelahiran dan Silsilah
Lahir: Di Kampung Gentur, Warungkondang, Cianjur. Tahun kelahirannya diperkirakan sekitar 1837 M (pertengahan abad ke-19).
Nama Kecil: Adun (kemudian berganti menjadi Ahmad Syathibi setelah menunaikan ibadah haji).
Nasab: Beliau adalah putra ketiga dari Mama Haji Muhammad Sa’id dan Hj. Siti Khodijah. Garis keturunannya bersambung hingga ke Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya), salah satu wali besar di tanah Jawa.
Pendidikan dan Guru
Mama Gentur adalah sosok pengelana ilmu yang gigih. Beliau menuntut ilmu ke berbagai pesantren, antara lain:
Mama Kholil (Bangkalan, Madura): Salah satu gurunya yang masyhur.
Syekh Shoheh (Bunikasih, Cianjur).
Syekh Muhammad Adzro’i (Bojong, Garut).
Mekkah: Beliau sempat bermukim di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Dikisahkan saat di Mekkah, beliau saling bertukar ilmu dengan ulama asal Bawean (Mama Gentur mengajarkan ilmu Mantiq, sementara ulama Bawean mengajarkan Qira’at).
Kiprah dan Karya
Sepulangnya dari menuntut ilmu, beliau mengasuh Pesantren Gentur di Warungkondang, Cianjur.
Spesialisasi Ilmu: Beliau sangat ahli dalam berbagai fan ilmu, terutama Ilmu Alat (Nahwu, Shorof, Balaghah, Mantiq) dan Fiqih.
Karya Tulis: Mama Gentur adalah ulama yang produktif. Beliau menulis sekitar 80 kitab (dalam bahasa Arab dan Sunda). Beberapa karya terkenalnya antara lain:
Sirojul Munir (Fiqih)
Tahdidul ‘Ainain (Fiqih)
Al-Mukadimah (Ilmu Tauhid)
Berbagai Nadzom (syair ajar) dalam ilmu Nahwu dan Shorof yang masih dipelajari santri hingga kini.
Karakter dan Teladan
Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat Wara’ (berhati-hati) dan Zuhud (sederhana). Salah satu kisah masyhur tentang kesederhanaannya adalah kebiasaan makannya yang hanya nasi putih dicocol garam, meskipun beliau sering dijamu makanan mewah oleh orang-orang kaya atau pejabat. Beliau tidak ingin terbuai oleh kenikmatan duniawi.
Murid-Murid Terkenal
Banyak murid beliau yang menjadi “paku bumi” Jawa Barat, di antaranya:
Mama Sempur (Syekh Tubagus Ahmad Bakri, Purwakarta)
Mama Cimasuk (Garut)
Mama Abdullah bin Nuh (Bogor)
WAFAT
Mama Gentur wafat pada hari Rabu, 14 Jumadil Akhir 1365 H (sekitar 15 Mei 1946 M). Makamnya di Gentur, Warungkondang, Cianjur, hingga kini selalu ramai diziarahi oleh masyarakat dan santri dari berbagai daerah.
//semoga bermanfaat














