PROBOLINGGO, Jawara Post – Mengenalkan teknologi sejak usia sekolah menjadi salah satu upaya menyiapkan generasi yang siap menghadapi perkembangan zaman. Semangat itu diwujudkan melalui Pelatihan Robotik bagi siswa SMP dalam program Sekolah Literasi yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo.
Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan konsep dasar robotik, tetapi juga mengajak para pelajar belajar melalui praktik langsung. Siswa diajak memahami cara kerja teknologi sekaligus mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir logis, dan keterampilan memecahkan masalah.
Dalam pelatihan itu, peserta mempelajari berbagai aspek dasar robotik, mulai dari mekanika, elektronika, penggunaan sensor, hingga pemrograman (coding). Pembelajaran dilakukan secara bertahap, dilanjutkan dengan praktik merakit komponen hingga menghasilkan robot sederhana yang mampu bergerak dan merespons perintah.
Pada sesi mekanika, siswa dikenalkan dengan struktur dasar robot, seperti fungsi rangka, roda, gear, serta komponen penunjang lainnya. Materi tersebut menjadi fondasi untuk memahami bagaimana sebuah robot dapat bergerak sesuai rancangan.
Selanjutnya, peserta mempelajari sistem elektronika, termasuk fungsi baterai, motor, kabel, serta berbagai sensor, seperti sensor jarak dan sensor cahaya yang berperan dalam mengendalikan respons robot terhadap lingkungan.
Kemampuan pemrograman juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Siswa belajar menyusun kode sederhana menggunakan platform seperti Arduino maupun Micro:bit untuk mengatur berbagai perintah, mulai dari bergerak, berhenti, berbelok, hingga merespons objek yang terdeteksi sensor.
Selama proses praktik, peserta dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti rangkaian yang belum berfungsi atau kesalahan pada program. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran, karena siswa didorong mencari penyebab masalah, melakukan perbaikan, kemudian menguji kembali hingga robot bekerja sesuai yang diharapkan.
Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas, melalui pustakawan Diseprsip Kabupaten Probolinggo, Hesthiyono Suko Adhi, mengatakan bahwa proses tersebut sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan membangun kebiasaan mencari solusi. “Siswa diperkenalkan bahwa setiap kesalahan merupakan bagian dari proses belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik,” katanya.
Menurutnya pelatihan juga memberikan ruang bagi peserta untuk menuangkan ide dan kreativitas. Mereka diajak merancang bentuk robot sekaligus memikirkan fungsi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai solusi atas persoalan sederhana.
“Selain keterampilan teknis, kegiatan ini menumbuhkan kemampuan bekerja sama. Seluruh praktik dilakukan dalam kelompok, dengan pembagian tugas mulai dari merakit komponen, memasang sensor, hingga menyusun program, sehingga peserta belajar berkomunikasi dan berkolaborasi dalam menyelesaikan pekerjaan,” lanjutnya.
Melalui program Sekolah Literasi, Dispersip Kabupaten Probolinggo memperluas makna literasi.
“Literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kecakapan memahami teknologi, berpikir kritis, berinovasi, dan menghasilkan solusi,” ujar Hesthiyono.
Dispersip berharap pelatihan robotik tersebut menjadi salah satu langkah untuk membentuk generasi muda Kabupaten Probolinggo yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki bekal untuk mengembangkan dan menciptakan inovasi di masa mendatang. (Fik)















