Kades Viral 2026, Tukang Sampah Pujaan Masyarakat

JAWA BARAT, Jawara Post –Surya (46), seorang pemilah sampah asal Kampung Rawa Banteng Kaum, berhasil terpilih menjadi Kepala Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi

Berikut sekilas cuplikan kisah nyata ini disajikan sederhana.

DARI TUMPUKAN kardus, plastik, dan limbah pabrik, Surya Bin Samid membangun kehidupan keluarganya sedikit demi sedikit. Tidak ada kemewahan dalam kesehariannya. Lelaki 46 tahun dari Kampung Rawa Banteng Kaum, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, itu sehari-hari bekerja memilah barang bekas yang masih memiliki nilai jual.

Pekerjaan tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan keluarganya. Surya juga mempekerjakan tiga orang dalam usaha sederhana yang ia jalankan.

Namun, siapa sangka, dari kehidupan yang sederhana itu, sebuah perjalanan politik tingkat desa justru membawanya ke tempat yang sama sekali berbeda.

Surya memberanikan diri maju dalam Pemilihan Kepala Desa Mekarwangi 2026.

Keputusan itu sempat membuatnya diremehkan. Kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan menjadi bahan cibiran. Bahkan, perjuangannya sempat dianalogikan seperti “semut melawan gajah”, karena ia harus berhadapan dengan calon petahana.

Tetapi Surya tidak memilih mundur.

Ia mengatakan keputusan tersebut lahir dari hati dan keinginannya sendiri. Setelah berdiskusi dengan teman-teman dan mendapat dukungan masyarakat, ia akhirnya tetap melangkah.

“Rezeki itu kan bukan manusia yang menentukan. Kita percaya sama Yang Maha Kuasa,” demikian pernyataan Surya yang dikutip media setelah pemilihan.

Hari pemungutan suara pun tiba.

Pilkades Serentak Kabupaten Bekasi digelar pada 20 September 2026 di 154 desa. Pemerintah Kabupaten Bekasi sebelumnya menyebut pemilihan tersebut sebagai bagian dari proses demokrasi di tingkat desa, dengan persiapan yang melibatkan pemerintah daerah, panitia, serta unsur keamanan.

Di Mekarwangi, persaingan berlangsung ketat.

Angka demi angka terus bergerak. Keluarga Surya mengikuti hasil penghitungan dengan perasaan campur aduk. Ratih Ratnasari, istrinya, bahkan mengaku tidak tidur sekitar 24 jam karena terus mengikuti perkembangan perolehan suara.

Hingga akhirnya, angka terakhir muncul.

Surya memperoleh 4.107 suara.

Hasil yang diberitakan sejumlah media menempatkannya di atas calon petahana. Salah satu laporan mencatat pesaingnya memperoleh 4.015 suara, sehingga selisih akhirnya 92 suara.

Selisihnya memang tidak besar.

Tetapi bagi keluarga Surya, 92 suara itu bukan sekadar angka.

Di balik setiap suara ada kepercayaan warga yang kini berubah menjadi tanggung jawab besar.

Dari seorang pemilah barang bekas, Surya kini bersiap menjalankan amanah sebagai kepala Desa Mekarwangi.

Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah kehidupan keluarganya. Dalam pemberitaan setelah pemilihan, sang istri menceritakan bahwa kondisi ekonomi mereka memang sederhana. Penghasilan dari usaha barang bekas harus diputar untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membayar tiga pekerja.

Bahkan ketika Surya menyampaikan keinginannya untuk maju, Ratih sempat mengingatkan bahwa mereka tidak memiliki modal besar.

Namun Surya tetap berkata bahwa mereka akan terus maju.

Dan akhirnya, keputusan yang sempat diragukan itu membawa hasil.

Kini tantangannya justru baru dimulai.

Surya membawa gagasan untuk membuat pemerintahan desa lebih transparan dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Pengalamannya mengelola barang bekas juga ingin ia kembangkan menjadi pengelolaan sampah yang lebih terorganisasi sekaligus membuka kesempatan kerja bagi warga.

Ia tidak datang dari dunia elite. Ia tidak dikenal karena kekayaan.

Ia justru datang dari sebuah rumah sederhana, dari pekerjaan memilah barang yang sering kali dipandang sebelah mata.

Tetapi dari sanalah ia belajar tentang bagaimana sesuatu yang dianggap tidak berharga masih bisa memiliki nilai jika dikelola dengan tekun.

Mungkin prinsip itu pula yang akhirnya membawanya memenangkan Pilkades.

Sampah yang bagi sebagian orang hanya dianggap barang buangan, bagi Surya adalah sumber kehidupan.

Dan ketika dirinya sendiri sempat diremehkan karena keadaan ekonomi, ia memilih membuktikan bahwa nilai seseorang tidak selalu ditentukan oleh apa yang terlihat dari luar.

Setelah kemenangan tersebut, istrinya menyampaikan satu harapan sederhana: agar Surya tetap amanah dan tidak melupakan alasan awal ketika memutuskan maju.

“Saya akan mendampingi dan mengingatkan,” demikian pesan Ratih yang dikutip dalam pemberitaan.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi bagi seorang pemimpin yang baru saja memenangkan pertarungan sengit, pesan dari orang terdekatnya tersebut bisa menjadi pengingat bahwa setelah tepuk tangan kemenangan berhenti, masih ada amanah yang jauh lebih panjang.

Surya sudah melewati masa ketika dirinya diremehkan.

Kini masyarakat menunggu bagaimana ia menjalankan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

Dulu ia memilah barang yang dianggap tidak berharga. Kini ia dipercaya untuk memilah persoalan desanya, mencari jalan keluar, dan membawa perubahan bagi masyarakat Mekarwangi.

Dan mungkin inilah bagian paling haru dari kisahnya:

Ia tidak harus menjadi orang kaya terlebih dahulu untuk berani bermimpi. Ia hanya perlu percaya pada niatnya, bekerja keras, dan berani melangkah ketika orang lain mengatakan bahwa langkah itu mustahil.

Untuk itu, semua ini membuktikan bahwa taqdir adalah ketentuan yang Maha segalanya, sementara manusia hanyalah mampu dan bisa berupaya dan berusaha. Janganlah putus asa, karena kita semua tidak tahu apa yang akan kita terima dari hasil apa yang kita upayakan. (Gus)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *