Anak-Anak Belajar di Tengah Genangan, Program JALIN SAE Belum Menyentuh Kraksaan Wetan Probolinggo

PROBOLINGGO, Jawara Post – Semangat Gerakan Jaga Lingkungan (JALIN) SAE yang digaungkan melalui Instruksi Bupati Probolinggo Nomor 1 Tahun 2026 belum sepenuhnya menyentuh seluruh wilayah. Di jantung Ibu Kota Kabupaten, tepatnya di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Kraksaan Wetan, Kecamatan Kraksaan, genangan air justru menjadi pemandangan yang berulang di halaman TK Negeri Pembina II Kraksaan setiap kali hujan turun.

Air yang seharusnya mengalir tenang di saluran drainase, kini tertahan. Saluran dari sisi utara hingga selatan sekolah terpantau mampet. Luapan air pun tak terbendung, menggenangi halaman dan menciptakan permukaan licin yang membahayakan keselamatan siswa.

Kepala TK Negeri Pembina II, Suprapti, S.Pd., mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah berupaya maksimal. Sejak 22 Februari 2026, guru-guru bersama staf melakukan kerja bakti membersihkan selokan.
Namun usaha itu belum mampu mengatasi persoalan utama, yakni saluran drainase di luar area sekolah yang tersumbat total.

“Kami sudah beberapa kali kerja bakti membersihkan selokan bersama para guru. Namun setiap hujan turun, air tetap meluap ke halaman,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Menurut Suprapti, persoalan ini bukan hal baru. Sejak 2024, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan Lurah Kraksaan Wetan. Saat itu sempat disampaikan rencana pembuatan sumur resapan sebagai solusi jangka panjang. Namun hingga kini, rencana tersebut belum terealisasi.

“Sudah kami sampaikan sejak dua tahun lalu. Waktu itu Pak Lurah berjanji akan dibuatkan peresapan. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, bahkan belum pernah ada kunjungan ke lembaga kami,” tuturnya.

Secara regulasi, drainase menjadi salah satu prioritas utama dalam gerakan JALIN SAE yang merujuk pada konsep ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Program tersebut mewajibkan kerja bakti rutin setiap Selasa dan Jumat pagi. Namun berdasarkan pantauan dan keterangan warga, saluran air di sekitar sekolah belum pernah tersentuh aksi nyata sejak gerakan diluncurkan secara masif pada 10 Januari 2026.

Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya menyayangkan kondisi tersebut.
“Di wilayah lain program bersih-bersih itu sudah jalan. Tapi di sini belum pernah, sama sekali belum pernah,” ujarnya.

Genangan di halaman sekolah mungkin terlihat sepele. Namun bagi anak-anak usia dini, itu adalah rintangan yang nyata—membatasi langkah kecil mereka untuk belajar dengan aman dan nyaman. Di tengah semangat membangun lingkungan yang bersih dan sehat, persoalan drainase ini menjadi cermin bahwa kebijakan membutuhkan sentuhan implementasi yang konsisten.

Hingga berita ini ditayangkan, pemerintah setempat belum memberikan keterangan resmi terkait kendala implementasi program JALIN SAE di wilayah tersebut. Masyarakat kini menanti langkah konkret normalisasi drainase, agar ruang belajar kembali kering—dan harapan tetap mengalir tanpa hambatan. (Fik)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta