Cerita Rakyat Kembali Hidup di Aula Pustakaloka, Dispersip Probolinggo Gelar Lomba Bertutur

PROBOLINGGO, Jawara Post – Suara-suara kecil penuh penghayatan menggema di Aula Pustakaloka Perpustakaan Daerah Kabupaten Probolinggo. Dari bibir para pelajar SD dan MI, cerita rakyat yang nyaris tenggelam oleh arus zaman kembali hidup dan menari di ruang literasi.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo menggelar Lomba Bertutur bertema “Cerita Rakyat Kabupaten Probolinggo” selama dua hari, Selasa-Rabu (12-13/5/2026), dalam rangka memperingati Hari Buku dan Hari Perpustakaan Nasional 2026.

Sebanyak 42 peserta dari 24 kecamatan tampil membawakan beragam kisah khas Kabupaten Probolinggo dengan gaya bertutur, ekspresi, dan improvisasi masing-masing. Mulai dari kisah Sumberkembar hingga cerita heroik Pak Kelap, pejuang kemerdekaan asal Desa Sebaung, disampaikan dengan penuh semangat dan penghayatan.

Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas mengatakan, lomba bertutur merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan cerita rakyat sebagai warisan budaya yang sarat nilai moral dan kearifan lokal.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghidupkan kembali cerita rakyat agar tetap dikenal dan relevan bagi generasi muda di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

Menurutnya, bertutur bukan sekadar menyampaikan cerita, tetapi juga menjadi ruang melatih keberanian, kreativitas, serta kemampuan komunikasi anak sejak dini.

“Bertutur bukan hanya menyampaikan cerita, tetapi juga melatih rasa percaya diri, kemampuan berbicara dan kreativitas anak dalam mengolah bahasa,” jelasnya.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan hiburan digital, kegiatan tersebut menjadi oase literasi yang mengajak anak-anak kembali akrab dengan buku, budaya, dan akar tradisi daerahnya sendiri.

Ulfi berharap kegiatan itu mampu menumbuhkan minat baca sekaligus menjadi ruang pengembangan bakat anak di bidang literasi dan seni bertutur.

“Harapan kami, anak-anak di Kabupaten Probolinggo semakin gemar membaca, berani tampil dan mampu mengembangkan potensi diri melalui kegiatan literasi,” katanya.

Selain memperkuat kemampuan komunikasi, lomba bertutur juga menjadi media mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda melalui cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan literasi yang sejalan dengan program nasional untuk membangun budaya baca dan melestarikan kekayaan budaya daerah,” tambahnya.

Sementara itu, Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo, Hesthiyono Suko Adhi menuturkan, lomba bertutur tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat melalui kisah-kisah rakyat yang tumbuh di berbagai desa dan kecamatan.

“Lomba bertutur ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tapi juga ruang bagi generasi muda untuk kembali mengenal cerita rakyat khas Kabupaten Probolinggo yang tumbuh dan diwariskan di berbagai desa serta kecamatan,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).

Ia menambahkan, peserta terbaik pertama nantinya akan mewakili Kabupaten Probolinggo pada lomba bertutur tingkat Provinsi Jawa Timur.

Melalui panggung sederhana itu, cerita-cerita lama yang pernah hidup dari mulut ke mulut kembali menemukan denyutnya. Di tangan generasi muda, warisan budaya daerah tidak hanya dikenang, tetapi juga dijaga agar tetap hidup melintasi zaman. (Fik)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *