PROBOLINGGO, Jawara Post — Toleransi kadang tidak bersuara lantang. Ia hadir dalam diam, berdiri tegak menjaga, dan bekerja tanpa pamrih. Rabu (14/1/2026), wajah toleransi itu tampak di halaman Gereja Santo Paulus Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, ketika Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan GP Ansor Kraksaan mendampingi kegiatan bakti sosial lintas iman.
Tak ada sekat keyakinan di antara antrean warga yang datang. Sebanyak kurang lebih 250 paket sembako dibagikan kepada masyarakat kurang mampu di sekitar gereja. Bantuan itu menjadi perpanjangan tangan kasih—lahir dari perayaan Natal dan Tahun Baru, lalu tumbuh menjadi kepedulian sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Di antara wajah-wajah sederhana dan senyum yang tertahan haru, Banser dan GP Ansor berdiri menjaga ketertiban. Mereka tidak mengambil alih panggung, tidak pula menuntut sorotan. Kehadiran mereka menjadi pesan sunyi bahwa persaudaraan tidak selalu perlu dijelaskan, cukup dijalankan.
Pendeta Gereja Santo Paulus Kraksaan, Romo Dafid, menyampaikan bahwa bakti sosial tersebut merupakan ungkapan rasa syukur jemaat yang ingin dibagikan kepada masyarakat sekitar tanpa memandang perbedaan.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan Natal dengan warga. Kehadiran GP Ansor dan Banser membuat suasana terasa aman, hangat, dan penuh kebersamaan,” ungkapnya.
Menurut Romo Dafid, kolaborasi lintas iman yang terbangun menunjukkan bahwa keberagaman di Kraksaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan ruang untuk saling memahami dan menguatkan.
Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Kraksaan, Abd. Rahman, menegaskan bahwa pendampingan terhadap kegiatan sosial lintas iman merupakan bagian dari pengamalan nilai Islam yang menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi utama.
“Bagi Ansor dan Banser, menjaga persaudaraan adalah panggilan moral. Baik sesama umat beragama maupun antarumat beragama, semuanya adalah saudara dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Ia berharap, kerja-kerja sosial lintas iman terus dirawat sebagai upaya bersama menjaga harmoni, merawat persatuan, dan meneguhkan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Di Kraksaan, toleransi tidak lahir dari slogan atau seremonial. Ia tumbuh dari kesediaan untuk hadir, menjaga, dan berbagi. Di halaman gereja itu, persaudaraan menemukan rumahnya—tenang, sederhana, dan manusiawi. (Fik)













