Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D

JAWA TENGAH : Inilah Camat Paling Muda di Bumi Sukowati

SRAGEN, Jawara Post — Dua bulan lalu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati melantik pejabat eselon III di Pendapa Sumonegaran Rumdin Bupati Sragen.

Salah satu pejabat eselon III yang dilantik itu adalah Nugroho Dwi Wibowo yang dimutasi dari Camat Sambirejo menjadi Camat Kedawung. Di usia 40 tahun, Wibowo terhitung camat paling muda di Bumi Sukowati.

Wibowo lahir di Karanganyar, 12 Februari 1979. Kalau dilihat dari tahun kelahirannya, usia Wibowo sama dengan Camat Pasar Kliwon Solo. Sementara camat-camat lain di Sragen maupun di wilayah Soloraya lahir sebelum 1978.

Wibowo yang lahir di Tegal Asri, Bejen, Karanganyar kota, sekarang tinggal di Dukuh Kedungwaduk RT 002, Desa Gebang, Masaran, Sragen. Wibowo meniti karier sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sejak lulus dari Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) pada 2001 lalu.

Penempatan pertamanya saat itu sebagai anggota staf di Kantor Kecamatan Kalijambe selama dua tahun. Kemudian Wibowo menjadi ajudan Bupati Sragen Untung Wiyono sejak 2003-2005.

Ia masuk sebagai pejabat struktural mulai 2005 sebagai Kasi Pemerintahan Kelurahan Sragen Kulon selama enam bulan dan dimutasi menjadi Kasi Ketenteraman dan Ketertiban di Kecamatan Gesi selama 1,5 tahun.

Dari Gesi, Wibowo diangkat menjadi Kepala Kelurahan Plumbungan, Karangmalang, sampai 2010. Kemudian pindah sebagai Kasi Pemerintahan Kecamatan Sragen Kota sampai 2013.

Setelah itu jadi Sekretaris Kecamatan Sukodono selama 2,5 tahun dan Sekcam Sragen Kota hingga 2017. “Setelah itu jadi Camat Sambirejo selama 14 bulan dan akhirnya dua bulan lalu dimutasi jadi Camat Kedawung,” ujar Wibowo saat ditemui Solopos.com di R.M. Bandung Sragen, pekan lalu.

Wibowo memimpin 10 desa di wilayah Kecamatan Kedawung. Dari 10 desa itu hanya satu desa, yakni Karangpelem yang tidak ikut pemilihan kepala desa (pilkades) serentak tahun ini.

Kini, pilkades di sembilan desa menjadi fokus perhatiannya, khususnya di Desa Celep yang dinilainya cukup rawan karena menjadi ajang kompetisi antara carik dengan petahana.

Ia juga ingin memberdayakan ekonomi desa lewat optimalisasi fungsi badan usaha milik desa (BUMDesa). Dari 10 desa yang ada, Wibowo baru mencatat ada tiga desa yang mendirikan BUMDesa, yakni Karangpelem, Wonorejo, dan Kedawung.

Ia melihat potensi yang luar biasa di Desa Karangpelem seperti potensi yang dimiliki Desa Ponggok, Klaten. Ia menyebut potensi yang dimaksud berupa sumber air yang disebut mata air Tunggon yang mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air bagus.

“Saya pernah minum air di sumber itu langsung dari alamnya. Misalnya di dekat salah satu sumber air itu dibuat kolam renang dan di sumber satunya bisa diberdayakan untuk produksi air mineral. Potensi ini akan lebih maksimal dikelola BUM Desa dengan manajemen dan SDM [sumber daya manusia] yang kompeten,” ujarnya.

Untuk dua BUM Desa lainnya masih bergerak pada lembaga keuangan desa (LKD). Wibowo melihat potensi lapangan yang luas di Desa Bendungan yang dikembangkan sebagai Alun-alunnya Kecamatan Kedawung.

Lapangan itu bisa dipermak sebagai public space untuk warga Kedawung sekaligus sebagai pusat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjajakan produknya.

“Bendungan di Ibu Kota Kecamatan bisa mendatangkan pendapatan asli desa. Sebagai langkah awalnya, kami sudah mengajak desa untuk studi banding ke Wonosobo. Kami sudah memiliki komitmen dengan Paguyuban BUM Desa Wonosobo untuk pendampingan BUM Desa di Kedawung,” katanya.

Wibowo mengatakan seperti budidaya ternak sapi yang potensial di Wonorejo bisa difokuskan untuk pengembangan sapi brangus. Dia menginginkan Wonorejo memiliki ikon unggulan Sragen sebagai pusat sapi brangus, sapi khas Sragen.

Imel/red/jp



Menyingkap Tabir Menguak Fakta