KEWALIAN MBAH MAEMUN ZUBAIR DITANDAI SEJAK REMAJA

Maa shaa allah……

Sang Wali Abdal, Mbah Hamid Pasuruan mengetahui kewalian Mbah Moen sejak remaja

BANYAK ulama yang menyatakan bahwa Mbah Moen adalah seorang wali. Namun yang menarik bagi saya adalah pengakuan KH. Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan tentang kewalian Mbah Moen.

Ketika Mbah Moen muda pulang kembali dari belajar di Mekkah sekitar 1950, para kiai khos yang sedang berkumpul di rumah Kiai Ma’sum sibuk memuji kehebatan Gus Moen.

Hingga Mbah Hamid yang hadir merangkum pujian kepada Gus Moen.

” Gus Mainun adalah orang dzakiyyun, alimun, salihun, mufassirun, muhadditsun, faqihun, sufiyyun, waliyyun min awliya’illah.”

(Gus Maimoen adalah seorang yang cerdas, alim, sholih, ahli tafsir, ahli hadis, ahli fiqih, seorang sufi, dan seorang wali dari wali-wali Allah.”) Kata Mbah Hamid.

Mendengar pengakuan tersebut, tokoh yang hadir terkejut karena Gus Moen baru berusia 22 tahun. Pada kesempatan lain, Kiai Hamid juga menegaskan kewalian mbah Maimoen.
Seorang politikus datang ke Kiai Hamid memohon doa dan solusi di Pasuruan. Politikus muda itu kemudian disergap dengan pernyataan.

Di kesempatan yang lain, Mbah Hamid juga menegaskan kembali tentang kewalian Mbah Moen. Ceritanya adalah di zaman orde baru, ada seorang tamu sowan ke Mbah Moen. Tamu ini sebelumnya adalah salah satu orang yang ikut berjuang di PPP, namun kemudian pindah haluan masuk ke partai lain. Pada waktu itu hanya ada tiga partai; PPP, Golkar dan PDI.

Begitu tiba di kediaman Mbah Moen dan bertemu dengan beliau, Mbah Moen berkata kepadanya:

“Awakmu metu teko PPP…?! Entek donyamu! (Engkau keluar dari PPP…?! Habis hartamu!)

Tak berselang lama dawuh Mbah Moen ini menjadi kenyataan dalam kehidupan sang tamu. Merasa bingung dengan kondisinya yang berubah drastis, ia lalu sowan ke Mbah Hamid, guna memohon doa dan solusi. Tatkala tiba di kediaman Mbah Hamid, sang tamu langsung disergap pertanyaan oleh Mbah Hamid:

“Lapo sampean mrene…!? Kono… Nang Kyai Maimoen, Wali Nom!” (Kenapa kamu kesini…!? Sana… Ke Kyai Maimoen, Wali Muda!!!”)

Kesaksian Mbah Hamid atas kewalian Mbah Moen ini sangat menarik tidak hanya karena paling dahulu di antara kesaksian para ulama yang lain. Tetapi juga menarik dilihat dari sosok Mbah Hamid sendiri yang tersohor sebagai seorang wali. Mbah Hamid adalah seorang wali abdal yang menggantikan posisi wali abdal sebelumnya yaitu KH. Sahlan Tholib Krian Sidoarjo. Tidak ada yang mengenal wali kecuali wali (juga). Di zaman akhir, lebih banyak wali mastur (menyembunyikan jati dirinya) daripada wali masyhur (yang diketahui banyak orang).

Ada wali yang terkenal di langit (ma’ruf fi al-sama’) tetapi tidak dikenal di bumi (majhul fi al-ardh) dan ada wali yang terkenal di langit sekaligus terkenal di bumi.

Kepopuleran Mbah Moen di kalangan para wali dan ulama tidak perlu diragukan lagi. Hal ini bisa dilihat dari kedekatan Mbah Moen dengan tokoh-tokoh ulama kaliber internasional dari berbagai belahan dunia. Mbah Moen sering berkunjung dan sekaligus dikunjungi oleh para ulama dunia.

Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang mengganti posisi Mbah Moen sebagai wali?

Syeikh Abbas al-Mursi (Murcia Spanyol) –murid Syeikh Abu Hasan al-Sadzili dan guru Syeikh Ibn Ataillah al-Sakandari– menafsirkan kata ayat dalam QS 2:106

(مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا)

Sebagai seorang wali. Maka artinya adalah “Tidak ada wali yang kami cabut nyawanya atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kecuali Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.”

Mbah Moen telah pergi, apakah penggantinya masuk kategori wali yang masyhur atau mastur? Wallahu a’lam.

Saya masih ingat dengan jelas ketika Gus Miek wafat pada tahun 1993, bumi di belahan Jawa Timur diguyur hujan selama 3 hari.

Tanah dibasahi oleh air mata langit yang bersedih atas meninggalnya salah satu kekasih Allah. Begitu juga ketika Mbah Moen wafat. Langit Mekkah diliputi mendung kesedihan dan tanah suci dihujani air mata langit.

Begitulah, kepergian Mbah Moen tidak hanya ditangisi oleh kalangan Muslim tetapi juga non-Muslim. Tidak hanya ditangisi oleh manusia bahkan juga oleh alam. Mbah Moen adalah salah satu contoh nyata dari ungkapan syair tentang kelahiran dan kematian ideal:

ولدتك أمك يا ابن آدم باكياً .. والناس حولك يضحكون سروراً
فاعمل لنفسك أن تكون إذا بكوا .. في يوم موتك ضاحكاً مسروراً

Wahai anak Adam, Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis
Sedangkan manusia di sekelilingmu tertawa bahagia (atas kelahiranmu)
Beramalah untuk dirimu, agar pada ketika orang-orang menangis
Di hari kematianmu, kamu tertawa bahagia (bertemu Tuhanmu)

أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ … وَيَنْفَعْنَا بِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ وَعُلُومِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Semoga Allah meninggikan derajat mereka di surga, dan memberi kita manfaat melalui rahasia-rahasia mereka, cahaya mereka, dan ilmu-ilmu mereka dalam urusan agama, dunia, maupun akhirat.”
Aamiin aamiin yaa Mujibasailin.🤲



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *