Silaturahmi Usai Lebaran, Keluarga KJ, Kraksaan Probolinggo Rawat Kebahagiaan dalam Kebersamaan

PROBOLINGGO, Jawara Post – Hangatnya Hari Raya Idulfitri tak hanya terasa dalam lantunan takbir dan hidangan khas Lebaran, tetapi juga dalam jalinan silaturahmi yang kembali dirajut antar anggota keluarga. Nilai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya menjaga hubungan kekerabatan itu kembali hidup, mengalir dalam pertemuan-pertemuan sederhana yang sarat makna.

Seperti yang tergambar dalam kegiatan arisan Keluarga Jumari (KJ) yang digelar sehari setelah Idulfitri di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (22/3/2026).

Lintas generasi hadir dalam satu ruang: anak-anak dengan tawa lepasnya, para orang tua dengan wajah penuh syukur, semuanya larut dalam suasana keakraban yang sulit digantikan oleh apa pun.

Di sela kebersamaan itu, tausiyah yang disampaikan ustadz Alam Syah Rizky Ramadhan, M.Pd., Gr., mengajak keluarga merenungi makna kebahagiaan yang sejati. Ia menuturkan, pada hakikatnya seluruh aktivitas manusia bermuara pada satu tujuan: mencari kebahagiaan.

“Semua yang kita lakukan ini tujuannya satu, yaitu mencari kebahagiaan. Namun, bagaimana cara mendapatkannya, itulah yang sering luput kita pahami,” ujarnya.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah At-Talaq ayat 2, “Man yattaqillah yaj’al lahu makhraja”—barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar.

Menurutnya, kebahagiaan tidak semata diukur dari materi, melainkan dari ketenangan hati yang lahir ketika manusia melibatkan nilai-nilai keimanan dalam setiap langkah hidupnya.

Pesan serupa juga disampaikan Susmiyati, yang memandu acara. Ia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketenangan yang bersumber dari Allah.

“Selama kita melibatkan Allah dalam setiap urusan, insyaAllah semuanya akan baik-baik saja,” tuturnya.

Tak hanya diisi tausiyah, kegiatan ini juga menghadirkan tradisi tukar hadiah yang menjadi warna tersendiri dalam silaturahmi keluarga KJ. Lebih dari sekadar bertukar bingkisan, tradisi ini menjadi wujud nyata dari ajaran “tahābbū tahabbū”—saling memberi hadiah agar tumbuh rasa saling mencintai.

Menariknya, tradisi tersebut melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak hingga balita.

Dengan polos dan penuh antusias, mereka belajar memberi dan menerima, menanamkan nilai kepedulian sejak dini. Tawa mereka pecah saat hadiah berpindah tangan, menghadirkan kehangatan yang tak bisa diukur dengan materi.

Di tengah canda dan percakapan ringan, terselip makna yang lebih dalam: bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam hal-hal sederhana—kebersamaan, perhatian, dan rasa saling memiliki.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, arisan keluarga ini menjadi ruang refleksi, tempat setiap anggota keluarga kembali mengingat arti penting silaturahmi dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan.

Momentum Idulfitri pun menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dan jarak yang kerap memisahkan, selalu ada jalan untuk kembali: duduk bersama, saling memaafkan, dan merawat kebahagiaan dalam kebersamaan. (Fik)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta