PROBOLINGGO, Jawara Post — Pagi di Kraksaan selalu berdenyut cepat. Deru mesin kendaraan berpadu dengan langkah warga yang memulai hari. Di tengah kesibukan itu, sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna hadir di pertigaan Jalan Ir. H. Juanda, Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan.
Seorang pria berdiri tegak di tengah jalan aspal, mengenakan rompi oranye dan menggenggam bendera kecil. Warga mengenalnya dengan sebutan “Imam Bonjol”—julukan yang lahir dari keteguhan serta semangat pengabdiannya.
Setiap pagi, sejak pukul 06.00 hingga sekitar 10.00 WIB, ia dengan setia mengambil peran sebagai pengatur arus lalu lintas. Tanpa komando resmi, tanpa peluit, ia mengandalkan ketegasan gerak tangan dan kepekaan situasi untuk mengurai kepadatan kendaraan.
Di simpang yang kerap padat saat jam berangkat sekolah dan kerja, kehadirannya menjadi penyeimbang antara tergesa dan keselamatan. Isyarat sederhana dari tangannya mampu menciptakan keteraturan di tengah potensi kemacetan.
Di balik peran itu, tersimpan tanggung jawab lain yang tak kalah penting. Ia merupakan Ketua RT di RW 04 Kelurahan Patokan. Sebuah amanah yang tidak hanya dijalankan melalui administrasi, tetapi juga diwujudkan lewat aksi nyata di tengah masyarakat.
Tanpa seragam dinas dan tanpa imbalan pasti, ia tetap konsisten menjalankan peran sosial tersebut. Baginya, membantu sesama bukan sekadar kewajiban, melainkan panggilan nurani.
Warga sekitar pun mengaku sangat terbantu dengan kehadirannya. Arus lalu lintas yang sebelumnya kerap semrawut kini terasa lebih tertib dan lancar.
“Kalau tidak ada beliau, sering macet. Sekarang lebih lancar,” ujar salah satu pengendara.
Di simpang kecil Patokan, “Imam Bonjol” menghadirkan pelajaran besar tentang arti kepemimpinan. Bahwa pemimpin sejati tidak hanya hadir di balik meja, tetapi juga berdiri di tengah jalan—di antara debu, panas, dan riuh kendaraan—demi memastikan orang lain dapat melanjutkan perjalanan dengan aman. (Fik)














