PROBOLINGGO, Jawara Post – Aroma rebusan kedelai memenuhi sudut dapur produksi sederhana di Desa Brani Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Di tempat itu, para siswa SMP Plus Al-Kholiliyah tampak sibuk mengikuti praktik pembuatan tahu sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan dan pendidikan karakter.
Dengan mengenakan pakaian sederhana dan kopiah hitam di kepala, para siswa belajar langsung bagaimana proses tahu dibuat, mulai dari penyaringan sari kedelai hingga pencetakan. Tangan-tangan muda itu bekerja penuh semangat, berpadu dengan kepulan asap tungku yang seolah menjadi saksi lahirnya pelajaran tentang kerja keras dan kemandirian.
Kegiatan praktik tersebut tidak sekadar mengenalkan proses produksi makanan tradisional. Lebih dari itu, sekolah ingin menanamkan nilai kehidupan kepada para siswa bahwa ilmu tidak hanya tumbuh di balik meja kelas, tetapi juga lahir dari pengalaman, keringat, dan kebersamaan.
Kepala Sekolah SMP Plus Al-Kholiliyah, Fadli, S.Sy., M.Pd., mengatakan bahwa pembelajaran berbasis praktik menjadi salah satu cara membentuk karakter siswa agar lebih mandiri dan memiliki keterampilan hidup sejak dini.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar menghargai proses, kerja sama, dan usaha masyarakat kecil. Kami ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang memiliki ilmu sekaligus akhlak dan keterampilan,” ujarnya.
Di tengah suara alat produksi dan hangatnya tungku tradisional, para siswa belajar arti gotong royong. Mereka saling membantu, berbagi tugas, dan memahami bahwa sebuah hasil yang baik lahir dari proses yang tidak instan.
Bangunan sekolah yang berdiri sederhana di lingkungan pedesaan itu kini bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung. Di sana, para siswa diajarkan memahami kehidupan dengan cara yang lebih dekat dan nyata.
Dari sebutir kedelai yang diolah bersama, para pelajar belajar tentang kesabaran. Dari asap tungku yang mengepul perlahan, mereka belajar bahwa cita-cita besar pun membutuhkan proses panjang untuk menjadi nyata. (Fik)














