Berkah di Teras Rumah: 75 Warga Asembakor Kraksaan Probolinggo Terima Bantuan Beras

PROBOLINGGO, Jawara Post —Matahari siang menggantung tepat di atas Desa Asembakor, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Teriknya menyentuh pelataran rumah-rumah warga, termasuk sebuah teras berlapis keramik hijau yang hari itu menjadi saksi sebuah peristiwa sederhana: berbagi.

Sebanyak 75 warga Desa Asembakor menerima bantuan beras premium kemasan lima kilogram. Bantuan tersebut diinisiasi oleh Reza, pemilik tambak setempat, sebagai wujud kepedulian sosial kepada masyarakat di sekitar lingkungan usahanya.

Penyaluran bantuan dilakukan secara tertib dan transparan. Data penerima mengacu pada pendataan resmi desa. Warga yang datang cukup mencocokkan nama, lalu menerima beras tanpa proses seleksi tambahan di lokasi. Tidak ada seremoni, tidak ada panggung sambutan—hanya antrean warga dan niat berbagi.

Reza tampak berdiri di sisi kendaraan pengangkut beras, menyerahkan langsung bantuan kepada warga. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan ikhtiar menyalurkan sebagian rezeki yang ia peroleh dari usaha tambak yang dikelolanya.

“Saya berharap bantuan ini bisa dirasakan manfaatnya dan membawa berkah bagi kita semua,” ujar Reza singkat.

Di antara antrean warga, Waqiah (50) tampak menggenggam erat karung beras yang baru diterimanya. Kerudung abu-abu menutup kepalanya, sementara raut wajahnya mencerminkan kelegaan. Bagi Waqiah, lima kilogram beras bukan sekadar bahan pangan, melainkan penopang dapur di tengah tekanan ekonomi rumah tangga.

“Kami sangat bersyukur. Terima kasih kepada Bapak Reza. Semoga usahanya semakin lancar,” ucapnya.

Mayoritas penerima bantuan merupakan perempuan, sebagian datang sendiri, sebagian didampingi anggota keluarga. Mereka berbaris rapi, menunggu giliran dengan sabar.
Latar rumah-rumah sederhana dan pagar kayu di sekitar lokasi menegaskan suasana keseharian desa yang berjalan apa adanya.

Program pembagian beras ini berlangsung singkat, namun maknanya terasa panjang. Di tengah fluktuasi harga bahan pokok dan meningkatnya kebutuhan hidup, bantuan tersebut menjadi penyangga sementara bagi kebutuhan rumah tangga warga.

Bagi Desa Asembakor, kegiatan ini mencerminkan relasi sosial yang tumbuh antara pelaku usaha lokal dan masyarakat. Tambak yang dikelola Reza tidak berdiri terpisah dari lingkungan sekitarnya, melainkan menjadi bagian dari denyut kehidupan desa.

Satu per satu warga pun pulang dari teras rumah keramik hijau itu, membawa beras di tangan dan rasa lebih ringan di hati. Di desa kecil di Kraksaan ini, berkah tidak hadir dalam jumlah besar—namun cukup untuk menjaga lumbung tetap terisi dan harapan tetap hidup. (Fik)



Menyingkap Tabir Menguak Fakta