KH. Maksum Lasem Ikut Serta Mendirikan NU

DIANTARA banyak riwayat tentang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) salah satunya adalah Mbah Maksum alias KH Maksum Lasem. Beliau merupakan salah seorang ulama yang kharismatik dan diketahui kewaliannya oleh Mbah Hamid Pasuruan.

KH. Maksum Lasem (Mbah Maksum Ahmad) adalah seorang ulama karismatik pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem, tokoh sentral pendirian Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH. Hasyim Asy’ari, dan kiai lainnya, beliau mendirikan NU pada tahun 1926 dan menjadi Khatib dalam forum musyawarah awal.

dikenal sebagai pedagang dermawan dengan prinsip Tarekat Hubbul Fuqar wal Masakin (tarekat cinta fakir miskin),

Seorang santri pengembara yang mendalami ilmu dari banyak guru, termasuk salah satu gurunya adalah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan,

KH Ma’shum Lasem (Mbah Ma’shum) adalah ulama karismatik pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren Al-Hidayat, Lasem, Rembang, yang dikenal sebagai pendidik teladan, tokoh anti-penjajahan, serta waliyullah. Beliau lahir di Lasem pada 1868 dan wafat pada 20 Oktober 1972, meninggalkan warisan pendidikan pesantren dan ketokohan NU yang kuat.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai KH Ma’shum Lasem:

Pendiri NU: Bersama KH Hasyim Asy’ari dan KH Kholil Bangkalan, Mbah Ma’shum mendirikan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya untuk membentengi tradisi keagamaan Islam Aswaja.

Pendidikan Pesantren: Mbah Ma’shum mendirikan Pondok Pesantren Al-Hidayat di Soditan, Lasem, yang berfokus pada pengajaran ilmu alat dan tafsir, serta mencetak banyak kiai besar.

Waliyullah & Karomah: Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat ikhlas dalam mengajar, mengayomi masyarakat, dan mendidik santri hingga akhir hayatnya.

Jalur Keturunan: Beliau adalah ayah dari KH Ali Maksum, yang pernah menjabat sebagai Rais ‘Aam PBNU periode 1981-1984.
Anti-Penjajahan: Sejak muda, Mbah Ma’shum dikenal memiliki jiwa nasionalisme tinggi dan anti-penjajahan.
Mbah Ma’shum wafat pada usia 102 tahun dan dimakamkan di komplek Masjid Jami’ Lasem, Rembang.

Semoga kita semua bisa meniru keteladanan beliau sebagai santri pengembara, dan semoga kita mendapatkan aliran barokah nya, amin,



Menyingkap Tabir Menguak Fakta


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *